Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid | Brosur MTA Ahad, 31 Juli 2005/24 Jumadits Tsaniyah 1426

Assalamualaikum saudaraku muslimin dan muslimat di manapun anda berada, shalawat dan salam juga kami tujukan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Dalam halaman ini dapat anda dalil-dalil keutamaan shalat berjamaah di masjid yang kami kutib dari brosur Majelis Tafsir Alquran pimpinan Ustaz Drs. Ahmad Sukino (Alm.) edisi Ahad, 31 Juli 2005/24 Jumadits Tsaniyah 1426.


Pengertian shalat berjama'ah

Shalat berjama'ah ialah shalat yang dilakukan oleh orang banyak secara bersama, paling sedikit dua orang, salah seorang diantara mereka yang lebih fasih bacaannya dan lebih mengerti tentang hukum Islam (Al-Qur'an dan Hadits) dipilih menjadi imam, dan yang lain menjadi makmum. Shalat berjama'ah ini hukumnya sunnah muakkad.

Keutamaan shalat berjama'ah

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: صَلاَةُ  الرَّجُلِ فِى اْلجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلىَ صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَ فِى سُوْقِهِ خَمْسًا وَ عِشْرِيْنَ ضِعْفًا، وَ ذلِكَ اَنَّهُ اِذَا تَوَضَّأَ فَاَحْسَنَ اْلوُضُوْءَ ثُمَّ خَرَجَ اِلىَ اْلمَسْجِدِ لاَ يُخْرِجُهُ اِلاَّ الصَّلاَةُ  لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً اِلاَّ رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَ حُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ، فَاِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلِ اْلمَلاَئِكَةُ تُصَلّى عَلَيْهِ مَا دَامَ فِى مُصَلاَّهُ. اَللّهُمَّ صَلّ عَلَيْهِ، اَللّهُمَّ ارْحَمْهُ. وَ لاَ يَزَالُ اَحَدُكُمْ فِى صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ. البخارى
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Shalatnya seseorang dengan berjama'ah (di masjid) itu berlipat ganda (pahalanya) dengan dua puluh lima kali lipat dari pada shalatnya di rumah dan di pasar. Yang demikian itu karena apabila dia berwudlu dan memperbagus wudlunya, kemudian berangkat ke masjid yang mana tidak ada yang menggerakkannya untuk berangkat ke masjid itu kecuali (untuk) shalat, maka tidaklah dia melangkahkan kakinya satu langkah, kecuali dengannya diangkat satu derajat untuknya dan dihapuslah dengannya satu kesalahannya. Dan apabila dia telah shalat, para malaikat terus-menerus mendoakannya selama dia masih berada di tempat shalatnya (dan selama belum bathal wudlunya)”. Malaikat mengucapkan "Alloohumma shalli 'alaih, Alloohummar-hamhu" (Ya Allah, berilah berkah kepadanya, Ya Allah, berilah rahmat kepadanya). Dan senantiasa dia dianggap shalat selama dia menunggu (untuk) shalat". [HR. Bukhari juz 1, hal. 158].

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لاَ يَزَالُ اْلعَبْدُ فِى صَلاَةٍ مَا كَانَ فِى مُصَلاَّهُ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ، وَ تَقُوْلُ اْلمَلاَئِكَةُ: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اَللّهُمَّ ارْحَمْهُ حَتىَّ يَنْصَرِفَ اَوْ يُحْدِثَ. قُلْتُ: مَا يُحْدِثُ. قَالَ: يَفْسُوْ اَوْ يَضْرِطُ. مسلم
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Senantiasa seorang hamba terhitung shalat selama dia berada di tempat shalatnya untuk menunggu datangnya waktu shalat wajib. Dan malaikat mendoakan Alloohummaghfir lahu, Alloohummar hamhu. (Ya Allah berilah ampun kepadanya, ya Allah berilah rahmat kepadanya)”. Yang demikian itu hingga dia berpaling atau dia berhadats”. Aku (Abu Rafi’) bertanya, “Apa yang dimaksud berhadats itu ?”. (Abu Hurairah) menjawab, “Kentut yang tidak berbunyi, maupun yang berbunyi”. [HR. Muslim juz 1, hal. 459].

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: صَلاَةُ اْلجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ اْلفَذّ بِسَبْعٍ وَ عِشْرِيْنَ دَرَجَةً. البخارى
Dari ‘Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Shalat berjama'ah itu lebih utama dari pada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat". [HR. Bukhari juz 1, hal. 158]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: تَفْضُلُ صَلاَةُ اْلجَمِيْعِ صَلاَةَ اَحَدِكُمْ وَحْدَهُ بِخَمْسٍ وَ عِشْرِيْنَ جُزْأً وَ تَجْتَمِعُ مَلاَئِكَةُ اللَّيْلِ وَ مَلاَئِكَةُ النَّهَارِ فِى صَلاَةِ اْلفَجْرِ. ثُمَّ يَقُوْلُ اَبُوْ هُرَيْرَةَ: فَاقْرَءُوْا اِنْ شِئْتُمْ اِنَّ قُرْانَ اْلفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا. البخارى

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Shalat berjama’ah itu lebih utama dari pada shalat seseorang diantara kalian sendirian dengan dua puluh lima bagian, dan malaikat yang mengurusi malam berkumpul dengan malaikat yang mengurusi siang (menyaksikan) pada shalat Shubuh”. Kemudian Abu Hurairah berkata, ”Bacalah jika kamu mau, ayat Inna qur-aanal fajri kaana masyhuudaa(Sesungguhnya shalat shubuh itu disaksikan oleh para malaikat)” Al-Israa’ : 78. [HR. Bukhari juz 1, hal. 159]

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: مَنْ سَرَّهُ اَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ، فَاِنَّ اللهَ شَرَعَ  لِنَبِيّكُمْ ص سُنَنَ اْلهُدَى وَ اِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ اْلهُدَى، وَلَوْ اَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوْتِكُمْ كَمَا يُصَلّى هذَا اْلمُتَخَلّفُ فِى بَيْتِهِ، لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيّكُمْ، وَ لَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيّكُمْ لَضَلَلْتُمْ. وَ مَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُوْرَ، ثُمَّ يَعْمِدُ اِلىَ مَسْجِدٍ مِنْ هذِهِ اْلمَسَاجِدِ اِلاَّ  كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلّ خَطْوَةٍ يَخْطُوْهَا حَسَنَةً، وَ يَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً، وَ يَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيّئَةً، وَ لَقَدْ رَأَيْتُنَا، وَ مَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا اِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُوْمُ النّفَاقِ، وَ لَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفّ. مسلم
Dari ‘Abdullah (Ibnu Mas'ud), ia berkata : Barangsiapa yang senang untuk bertemu kepada Allah sebagai orang yang berserah diri besok (pada hari qiyamat), maka hendaklah dia menjaga shalat-shalatnya di mana dipanggil (diadzani) untuk shalat itu. Karena sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabi kalian SAW dengan sunnah-sunnah petunjuk. Dan sesungguhnya mendatangi shalat-shalat itu termasuk sunnah-sunnah petunjuk. Dan seandainya kalian shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang yang tidak mau datang ke masjid ini shalat di rumahnya, sungguh berarti kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, dan seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, sungguh kalian akan tersesat. Dan tidaklah seseorang bersuci (berwudlu) dan memperbaguskannya kemudian pergi ke satu masjid diantara masjid-masjid ini, kecuali Allah mencatat dengan setiap langkah kaki yang ia melangkah (ke masjid) itu dengan satu kebaikan baginya, dan dengannya Allah mengangkatnya satu derajat, dan dengannya pula Allah menghapuskan satu kesalahan. Dan sungguh saya telah melihat (keadaan) kita. Tidaklah enggan untuk mendatangi shalat (di masjid) kecuali orang munafiq yang telah diketahui kemunafiqannya, dan sungguh ada seorang laki-laki yang didatangkan (untuk shalat di masjid) dengan dibawa oleh dua orang di kiri-kanannya sehingga didirikan di dalam shaff". [HR. Muslim juz 1, hal. 453]

عَنْ اَبِى اْلاَحْوَصِ قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللهِ: لَقَدْ رَأَيْتُنَا، وَ مَا يَتَخَلَّفُ عَنِ الصَّلاَةِ اِلاَّ مُنَافِقٌ قَدْ عُلِمَ نِفَاقُهُ اَوْ مَرِيْضٌ. اِنْ كَانَ اْلمَرِيْضُ لَيَمْشِى بَيْنَ رَجُلَيْنِ حَتَّى يَأْتِيَ الصَّلاَةَ، وَ قَالَ: اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص عَلَّمَنَا سُنَنَ اْلهُدَى، وَاِنَّ مِنْ سُنَنِ اْلهُدَى الصَّلاَةَ فِى اْلمَسْجِدِ الَّذِيْ يُؤَذَّنُ فِيْهِ. مسلم
Dari Abul Ahwash, ia berkata : ‘Abdullah (Ibnu Mas’ud) berkata, "Sungguh saya telah melihat (keadaan) kita. Tidaklah enggan untuk mendatangi shalat (di masjid) kecuali orang munafiq yang telah diketahui kemunafiqannya atau orang yang sakit. Sesungguhnya orang yang sakit, ia (bisa) berjalan diantara dua orang sehingga datang (ke masjid) untuk shalat". Dan ia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita sunnah-sunnah petunjuk, dan sesungguhnya diantara sunnah-sunnah petunjuk itu ialah shalat di masjid yang diserukan adzan padanya". [HR. Muslim juz 1, hal. 453]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى اِلىَ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيْضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ اِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيْئَةً وَ اْلاُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً. مسلم
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa bersuci (berwudlu) di rumahnya, kemudian ia berjalan ke suatu masjid diantara masjid-masjid Allah untuk melaksanakan kewajiban diantara kewajiban-kewajibannya kepada Allah, maka setiap dua langkahnya adalah yang satu menghapus kesalahan, dan yang lain mengangkat derajat". [HR. Muslim juz 1, hal. 462]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوْءَهُ ثُمَّ رَاحَ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا، اَعْطَاهُ اللهُ جَلَّ وَ عَزَّ مِثْلَ اَجْرِ مَنْ صَلاَّهَا وَ حَضَرَهَا لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ اَجْرِهِمْ شَيـْئًا. ابو داود
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berwudlu dan memperbagus wudlunya, kemudian dia pergi (ke masjid), tiba-tiba dia mendapati orang-orang telah selesai shalat, maka Allah Jalla wa ‘Azza tetap memberinya pahala seperti pahalanya orang yang sudah shalat berjamaah itu, dan dia mendatanginya itu (pahalanya) tidak berkurang sedikitpun dari pahala mereka”. [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 155]

عَنْ اُبَيّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: صَلَّى بِنَا رَسُوْلُ اللهِ ص يَوْمًا الصُّبْحَ فَقَالَ: اَشَاهِدٌ فُلاَنٌ؟ قَالُوْا: لاَ. قَالَ: اَشَاهِدٌ فُلاَنٌ؟ قَالُوْا: لاَ. قَالَ: اِنَّ هَاتَيْنِ الصَّلاَتَيْنِ اَثْقَلُ الصَّلَوَاتِ عَلَى اْلمُنَافِقِيْنَ، وَ لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا فِيْهِمَا َلاَتَيْتُمُوْهُمَا، وَ لَوْ حَبْوًا عَلَى الرُّكَبِ، وَ اِنَّ الصَّفَّ اْلاَوَّلَ عَلَى مِثْلِ صَفّ اْلمَلاَئِكَةِ، وَ لَوْ عَلِمْتُمْ مَا فَضِيْلَتُهُ لاَبْتَدَرْتُمُوْهُ، وَ اِنَّ صَلاَةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ اَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ وَحْدَهُ، وَصَلاَتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ اَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ مَعَ الرَّجُلِ. وَ مَا كَثُرَ فَهُوَ اَحَبُّ اِلىَ اللهِ تَعَالَى. ابو داود
Dari Ubaiy bin Ka'ab, ia berkata : Pada suatu hari Rasulullah SAW mengimami kami shalat Shubuh. (Setelah selesai shalat), beliau bertanya kepada kami, "Apakah si fulan ada ?" Para shahabat menjawab, "Tidak ada !" Rasulullah SAW bertanya lagi. "Apakah si fulan ada ?". Para shahabat menjawab, "Tidak ada !". Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya dua shalat ini (‘Isyak dan Shubuh) adalah seberat-berat shalat bagi orang-orang munafiq. Dan seandainya kalian mengetahui kebaikan yang ada pada dua shalat ini (‘Isyak dan Shubuh), sungguh kalian akan mendatanginya walaupun merangkak dengan lutut. Dan sesungguhnya shaff yang pertama adalah seperti shaffnya malaikat, dan seandainya kalian mengetahui kelebihannya, sungguh kalian akan saling memperebutkannya. Dan sesungguhnya shalatnya seseorang berjamaah dengan satu orang itu lebih baik dan lebih bersih dari pada shalatnya sendirian, dan shalat berjama'ah dengan dua orang itu lebih baik dan lebih bersih dari pada shalat berjamaah dengan satu orang, dan setiap yang lebih banyak pesertanya maka itu lebih dicintai oleh Allah Ta’aalaa". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 152]

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص : مَنْ صَلَّى اْلعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ. وَ مَنْ صَلَّى اْلعِشَاءَ وَ اْلفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ. ابو داود
Dari 'Utsman bin ‘Affan, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang datang shalat 'Isyak berjama'ah, maka dia mendapatkan pahala (seperti) shalat setengah malam, dan barangsiapa yang shalat 'Isyak dan Shubuh berjama'ah, maka dia mendapatkan pahala seperti shalat satu malam penuh". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 152]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ اَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ اُخَالِفَ اِلىَ رِجَالٍ فَأُحَرّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوْتَهُمْ. وَ الَّذِيْ نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ يَعْلَمُ اَحَدُهُمْ اَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِيْنًا اَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ اْلعِشَاءَ. البخارى
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Demi Tuhan yang diriku di tangan-Nya, sungguh aku berkehendak memerintahkan (orang-orang mengumpulkan) kayu bakar, setelah terkumpul kemudian aku memerintahkan untuk adzan shalat, lalu aku menunjuk seorang untuk mengimami orang banyak, lalu aku pergi kepada orang-orang (yang tidak hadir dalam shalat berjamaah), kemudian aku bakar rumah-rumah mereka bersama yang ada di dalam. Dan demi Tuhan yang diriku di tangan-Nya, seandainya jika seseorang dari mereka mengetahui bahwa ia akan mendapat tulang yang berdaging gemuk atau daging pada dua rusuk yang baik, niscaya ia hadir pada shalat 'Isyak (berjamaah)". [HR. Bukhari juz 1, hal. 158]

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: اَتَى النَّبِيَّ ص رَجُلٌ اَعْمَى فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّهُ لَيْسَ لِى قَائِدٌ يَقُوْدُنِى اِلىَ اْلمَسْجِدِ. فَسَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص اَنْ يُرَخّصَ لَهُ فَيُصَلّى فِى بَيْتِهِ، فَرَخَّصَ لَهُ. فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ: هَلْ تَسْمَعُ النّدَاءَ بِالصَّلاَةِ؟ فَقَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَجِبْ. مسلم
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah datang kepada Nabi SAW seorang buta (Abdullah bin Umi Maktum) lalu ia berkata, "Ya Rasulullah ! Sesungguhnya saya tidak mempunyai penuntun yang menuntun saya ke masjid". Kemudian dia meminta kepada Rasulullah SAW supaya memberi kelonggaran baginya untuk shalat di rumah. Maka beliau memberi kelonggaran baginya. Tetapi setelah ia berpaling hendak pergi, beliau memanggilnya dan bertanya, "Apakah engkau mendengar adzan untuk shalat ?". Ia menjawab, "Ya". Beliau bersabda, "Bila demikian, hendaklah engkau datang". [HR. Muslim juz I : 452]

Alhmdulllahirabbil'alamin telah anda baca artikel tentang Keutamaan shalat berjamaah di masjid, yang kami kutip dari brosur Pengajian ahad pagi Majelis Tafsir Alquran edisi Ahad, 31 Juli 2005/24 Jumadits Tsaniyah 1426. sampai jupa pada brosur berikutya. [https://mtabrosur.blogspot.com/2011/03/050731-shalat-berjamaah-1.html]

Dalil Shahih Dzikir Sesudah Shalat | Brosur Jihad Pagi MTA Edisi Ahad, 03 Juli 2005/26 Jumadil ula 1426

Assalamualaikum Wr. Wb.. Berikut ini kami tuliskan secara lengkap isi brosur Pengajian Ahad Pagi Mjelis Tfsir Alquran yang memuat tentang dalil-dalil dzikir sesudah sahalat yang di lakuakn Rsulullah SAW. dan para shahabat beliau yang patut kita amalkan juga.

Dalil-Dalil Dzikir Sesudah Shalat

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا وَ قَالَ: اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ، وَ مِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ ذَا اْلجَلاَلِ وَ اْلاِكْرَامِ. قَالَ اْلوَلِيْدُ: فَقُلْتُ ِلـْلاَوْزَعِيّ: كَيْفَ اْلاِسْتِغْفَارُ؟ قَالَ: تَقُوْلُ اَسْتَغْفِرُ اللهَ، اَسْتَغْفِرُ اللهَ. مسلم
Dari Tsauban, dia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila selesai dari shalat, beliau memohon ampun (membaca istighfar) tiga kali. Lalu beliau membaca, “Alloohumma antas salaam, wa minkas salaam, tabaarokta dzal jalaali wal ikroom“. (Ya Allah, Engkau Maha Selamat, dan dari Engkaulah datangnya keselamatan. Engkau Maha Berkah, wahai Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Mulia). Al-Walid (perawi) berkata : Aku bertanya kepada Al-Auza’iy, “Bagaimana bacaan istighfar itu ?”. Al-Auza’iy menjawab, “Astaghfirullooh, astaghfirullooh”. (Aku mohon ampun kepada Allah, aku mohon ampunan kepada Allah). [HR. Muslim juz 1, ha. 414]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا سَلَّمَ لَمْ يَقْعُدْ اِلاَّ مِقْدَارَ مَا يَقُوْلُ: اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَ مِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا اْلجَلاَلِ وَ اْلاِكْرَامِ. و فى رواية ابن نمير: يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَ اْلاِكْرَامِ. مسلم
Dari ‘Aisyah, dia berkata, “Dahulu Nabi SAW apabila selesai salam, beliau tidak duduk kecuali sekedar membaca, “Alloohumma antas salaam, wa minkas salaam, tabaarokta dzal jalaali wal ikroom”. (Ya Allah, Engkau Maha Selamat, dan dari Engkaulah datangnya keselamatan. Engkau Maha Berkah, wahai Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Mulia). Dan dalam riwayat Ibnu Numair Yaa dzal jalaali wal ikroom. [HR. Muslim juz 1, hal. 414]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص: مَنْ سَبَّحَ اللهَ فِى دُبُرِ كُلّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ وَ حَمِدَ اللهَ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ وَ كَبَّرَ اللهَ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَ تِسْعُوْنَ. وَ قَالَ تَمَامَ اْلمِائَةِ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ، وَ لَهُ اْلحَمْدُ، وَ هُوَ عَلَى كُلّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَاِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ اْلبَحْرِ. مسلم
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa yang setiap habis shalat membaca tasbih sebanyak tiga puluh tiga kali, tahmid sebanyak tiga puluh tiga kali, takbir sebanyak tiga puluh tiga kali, yang demikian itu berarti sembilan puluh sembilan kali”. Nabi SAW bersabda, “Dan genap seratusnya ia mengucap, Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir. (Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia atas segala sesuatu berkuasa), maka akan diampuni dosa-dosanya sekalipun sebanyak buih di laut”. [HR. Muslim juz 1, hal. 418]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: جَاءَ اْلفُقَرَاءُ اِلىَ النَّبِيّ ص فَقَالُوْا: ذَهَبَ اَهْلُ الدُّثُوْرِ مِنَ اْلاَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ اْلعُلاَ وَ النَّعِيْمِ اْلمُقِيْمِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلّى وَ يَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ وَ لَهُمْ فَضْلُ اَمْوَالٍ يَحُجُّوْنَ بِهَا وَ يَعْتَمِرُوْنَ وَ يُجَاهِدُوْنَ وَ يَتَصَدَّقُوْنَ. قَالَ: اَلاَ اُحَدّثُكُمْ بِمَا اِنْ اَخَذْتُمْ اَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ وَ لَمْ يُدْرِكْكُمْ اَحَدٌ بَعْدَكُمْ وَ كُنْتُمْ خَيْرَ مَنْ اَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ اِلاَّ مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ تُسَبّحُوْنَ وَ تَحْمَدُوْنَ وَ تُكَبّرُوْنَ خَلْفَ كُلّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ. فَاخْتَلَفْنَا بَيْنَنَا. فَقَالَ بَعْضُنَا: نُسَبّحُ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ وَ نَحْمَدُ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ وَ نُكَبّرُ اَرْبَعًا وَ ثَلاَثِيْنَ فَرَجَعْتُ اِلَيْهِ فَقَالَ: تَقُوْلُ سُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ ِللهِ وَ اللهُ اَكْبَرُ حَتىَّ يَكُوْنَ مِنْهُنَّ كُلّهِنَّ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ. البخارى
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Orang-orang faqir datang kepada Nabi SAW lalu berkata, Orang-orang kaya dan berharta bisa mendapatkan derajat yang tinggi dan kenimatan yang kekal. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, mereka mempunyai kelebihan harta sehingga bisa berhajji, berumrah, berjihad dan bersedeqah. Nabi SAW bersabda, Maukah aku beritahukan kepada kalian dengan sesuatu yang apabila kalian lakukan, kalian akan mendapatkan apa yang didapatkan orang-orang yang mendahului kalian (dalam beramal) dan tidak seorangpun sesudah kalian yang menyusul kalian (beramal), dan kalian menjadi sebaik-baik orang diantara kalian, kecuali orang yang mengamalkan seperti itu juga. Yaitu kamu bertasbih, bertahmid, dan bertakbir setiap selesai shalat sebanyak tiga puluh tiga kali. Lalu diantara kami ada perbedaan pendapat. Sebagian ada yang berpendapat bertsbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, dan bertakbir tiga puluh empat kali. Lalu aku (tanyakan) kembali kepada beliau, maka beliau bersabda, Bacalah Subhaanallooh, wal hamdu lillaah, walloohu akbar. Sehingga masing-masingnya itu dibaca tiga puluh tiga kali. [HR. Bukhari juz 1, hal. 205]

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: مُعَقّبَاتٌ لاَ يَخِيْبُ قَائِلُهُنَّ اَوْ فَاعِلُهُنَّ دُبُرَ كُلّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ، ثَلاَثٌ وَ ثَلاَثُوْنَ تَسْبِيْحَةً وَ ثَلاَثٌ وَ ثَلاَثُوْنَ تَحْمِيْدَةً وَ اَرْبَعٌ وَ ثَلاَثُوْنَ تَكْبِيْرَةً. مسلم
Dari Ka’ab bin ‘Ujrah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Beberapa bacaan yang dibaca setiap habis shalat fardlu yang tidak akan membuat rugi bagi orang yang membacanya  (mengerjakannya) ialah tiga puluh tiga kali tasbih, tiga puluh tiga kali tahmid, dan tiga puluh empat kali takbir”. [HR. Muslim juz 1, hal. 418]

كَتَبَ مُعَاوِيَةُ اِلَى اْلمُغِيْرَةِ: اُكْتُبْ اِلَيَّ بِشَيْءٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ ص. قَالَ: فَكَتَبَ اِلَيْهِ. سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ اِذَا قَضَى الصَّلاَةَ: لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ وَ لَهُ اْلحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. اَللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا اَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفُعَ ذَا اْلجَدّ مِنْكَ اْلجَدُّ. مسلم
Mu’awiyah berkirim surat kepada Mughirah yang isinya, “Tuliskanlah untukku sesuatu yang kamu dengar dari Rasulullah SAW”. (Rawi) berkata : Mughirah pun berkirim surat kepada Mu’awiyah yang isinya, “Aku mendengar Rasulullah SAW setiap kali selesai shalat, beliau berdoa Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir. Alloohumma laa maani’a limaa a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu. (Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia atas segala sesuatu berkuasa. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi terhadap apa yang Engkau beri, dan tidak ada yang dapat memberi terhadap apa yang Engkau halangi, dan tidak bermanfaat (kekayaan itu) terhadap orang yang kaya, dari-Mu lah kekayaan itu”. [HR. Muslim juz 1, hal. 415]

عَنْ اَبِى الزُّبَيْرِ قَالَ: كَانَ ابْنُ الزُّبَيْرِ يَقُوْلُ فِى دُبُرِ كُلّ صَلاَةٍ حِيْنَ يُسَلّمُ: لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ وَ لَهُ اْلحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ. لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ. وَ لاَ نَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاهُ، لَهُ النّعْمَةُ وَ لَهُ اْلفَضْلُ وَ لَهُ الثَّنَاءُ اْلحَسَنُ. لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدّيْنَ وَ لَوْ كَرِهَ اْلكَافِرُوْنَ. وَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُهَلّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلّ صَلاَةٍ. مسلم
Dari Abu Zubair, ia berkata : Adalah Ibnu Zubair membaca pada setiap sesudah shalat, yaitu sesudah salam, Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa alaa kulli syai-in qodiir. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Laa ilaaha illallooh. Wa laa nabudu illaa iyyaah, lahun nimatu wa lahul fadllu wa lahuts tsanaa-ul hasan. Laa ilaaha illalloohu mukhlishiina lahud diina walau karihal kaafiruun (Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan bagi-Nya segala puji, dan Dia atas segala sesuatu berkuasa. Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dari Allah. Tidak ada Tuhan selain Allah. Dan kami tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya. Bagi-Nya segala kenimatan, bagi-Nya segala keutamaan, dan bagi-Nya segala sanjungan yang baik. Tidak ada Tuhan selain Allah, kami menjalankan agama ini setulusnya kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir membencinya. Dan ia berkata, Adalah Rasulullah SAW dahulu mengucapkan demikian setiap sesudah shalat. [HR. Muslim juz 1, hal. 415].

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: خَصْلَتَانِ اَوْ خَلَّتَانِ لاَ يُحَافِظُ عَلَيْهِمَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ اِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ، هُمَا يَسِيْرٌ وَ مَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيْلٌ: يُسَبّحُ فِى دُبُرِ كُلّ صَلاَةٍ عَشْرًا وَ يَحْمَدُ عَشْرًا وَ يُكَبّرُ عَشْرًا، فَذلِكَ خَمْسُوْنَ وَ مِائَةٌ بِاللّسَانِ وَ اَلْفٌ وَ خَمْسُمِائَةٍ فِى الْمِيْزَانِ. وَ يُكَبّرُ اَرْبَعًا وَ ثَلاَثِيْنَ اِذَا اَخَذَ مَضْجَعَهُ وَ يَحْمَدُ ثَلاَثًا  وَ ثَلاَثِيْنَ وَ يُسَبّحُ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ، فَذلِكَ مِائَةٌ بِاللّسَانِ وَ اَلْفٌ فِى اْلمِيْزَانِ، فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَعْقِدُهَا بِيَدِهِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ هُمَا يَسِيْرٌ وَ مَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيْلٌ؟ قَالَ: يَأْتِى اَحَدَكُمْ يَعْنِى الشَّيْطَانُ فِى مَنَامِهِ فَيُنَوّمُهُ قَبْلَ اَنْ يَقُوْلَهُ، وَ يَأْتِيْهِ فِى صَلاَتِهِ، فَيُذَكّرُهُ حَاجَةً قَبْلَ اَنْ يَقُوْلَهَا. ابو داود
Dari Abdullah bin ‘Umar RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Ada dua perkara, tidaklah seorang muslim menjaga atas keduanya kecuali dia masuk surga. Dua perkara itu mudah, tetapi orang yang mengamalkannya sedikit, yaitu setiap sehabis shalat (fardlu) bertasbih kepada Allah Ta’ala sepuluh kali, membaca tahmid sepuluh kali dan membaca takbir sepuluh kali. Maka yang demikian itu adalah seratus lima puluh di lisan, dan seribu lima ratus pada timbangan amal. Dan apabila akan tidur membaca takbir tiga puluh empat kali, membaca tahmid tiga puluh tiga kali dan membaca tasbih tiga puluh tiga kali. Maka yang demikian itu adalah seratus di lisan, dan seribu pada timbangan amal”. Berkata (Abdullah bin ‘Umar), “Sesung-guhnya saya melihat Rasulullah SAW menghitungnya dengan tangannya”. Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana keduanya itu mudah sedang orang yang mengamalkannya sedikit ?”. Rasulullah SAW menjawab, “Datang kepada seseorang diantara kalian (yaitu syaithan) pada tempat tidurnya lalu ia menidurkannya sebelum orang itu sempat membacanya, dan (syaithan) datang kepadanya di dalam shalatnya, lalu mengingatkan orang itu pada kebutuhannya sebelum orang itu sempat membacanya”. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 316].

Keterangan :
Sehabis shalat membaca tasbih sepuluh kali, membaca tahmid sepuluh kali dan membaca takbir sepuluh kali. Maka dalam setiap shalat wajib membaca sebanyak tiga puluh kali, sedangkan sehari semalam shalat wajib itu lima kali. Jadi semuanya ada seratus lima puluh kali (seratus lima puluh di lisan).
Dan satu kebaikan itu pahalanya sepuluh. Jadi seratus lima puluh di lisan sama dengan seribu lima ratus pada timbangan amal.

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادِ اْلاَلْهَانِيّ قَالَ سَمِعْتُ اَبَا اُمَامَةَ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ قَرَأَ آيَةَ اْلكُرْسِيّ دُبُرَ كُلّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ اْلجَنَّةِ اِلاَّ اْلمَوْتُ. الطبرانى، فى المعجم الكبير
Dari Muhammad bin Ziyad Al-Alhaniy, ia berkata : Saya mendengar Abu Umamah mengatakan : Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa membaca ayat Kursi pada setiap sesudah shalat wajib, maka tidak ada yang menghalanginya untuk masuk surga kecuali mati. [HR. Thabrani dalam Al-Mujamul Kabiir juz 8, hal. 114, no. 7532]

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص اَخَذَ بِيَدِهِ وَ قَالَ: يَا مُعَاذُ، وَ اللهِ اِنّى َلاُحِبُّكَ (وَ اللهِ اِنّى َلاُحِبُّكَ) فَقَالَ: اُوْصِيْكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلّ صَلاَةٍ تَقُوْلُ: اَللّهُمَّ اَعِنّى عَلَى ذِكْرِكَ وَ شُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ. ابو داود
Dari Muadz bin Jabal, bahwasanya Rasulullah SAW memegang tangannya, lalu bersabda, Hai Muadz, demi Allah aku menyukaimu, demi Allah aku menyukaimu. Kemudian beliau bersabda, Aku washiyatkan kepadamu, ya Muadz, janganlah kamu tinggalkan pada setiap selesai shalat kamu berdoa, Alloohumma ainnii alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatik (Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadahku kepada-Mu). [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 86, no. 1522]

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: اَمَرَنِى رَسُوْلُ اللهِ ص اَنْ اَقْرَأَ بِاْلمُعَوّذَتَيْنِ فِى دُبُرِ كُلّ صَلاَةٍ. الترمذى
Dari Uqbah bin Amir, ia berkata, Rasulullah SAW menyuruh supaya aku membaca surat muawwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) pada setiap selesai shalat. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 244, no. 3067]