Brosur MTA Tentang Shalat || Dalil-Dalil Tentang Pelaksanaan Shalat Berdiri Hadap Kiblat, Takbir (Brosur ke 10)

Dalil-Dalil Tentang Tata Cara Pelaksanaan Shalat - Assalamualikum Warohmatullohi wabarokatuh, para pemirsa muslimin dan muslimat. Dalam halaman ini kami cantumkan dalil-dalil tentang pelaksanaan shalat dari Majelis Tafsir Alquran (MTA) Ahad, 03 Oktober 2004/18 Sya'ban 142. Karena pentingnya untuk mengetahui dalil yang sebenarnya, tidak ikut ikutan orang lain atau orang tua kita dahulu ketika mengajari kita pertama kali shalat, maka kami rekomendasikan untuk anda agar membaca semuanya.

1. Shalat Dengan Berdiri.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رض قَالَ: كَانَتْ بِى بَوَاسِيْرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ ص عَنِ الصَّلاَةِ، فَقَالَ: صَلّ قَائِمًا فَاِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَاِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ. البجارى 2: 41

Dari 'Imran bin Hushain RA, ia berkata : Saya menderita sakit wasir, maka saya bertanya kepada Nabi SAW tentang shalat, lalu beliau bersabda, "Shalatlah dengan berdiri, jika tidak dapat maka shalatlah dengan duduk dan jika tidak dapat, maka shalatlah dengan berbaring". [HR. Bukhari juz 2, hal. 41]

2.) Menghadap Qiblat.

وَ مِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلّ وَجْهَكَ شَطْرَ اْلمَسْجِدِ اْلحَرَامِ، وَ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَه‘.البقرة:150

Dan dari mana saja kamu berangkat, maka palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram, dan dimana saja kamu sekalian berada, maka palingkanlah wajahmu (ketika shalat) ke arahnya. [QS Al-Baqarah : 150]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اِذَا قُمْتَ اِلَى الصَّلاَةِ فَاَسْبِغِ اْلوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ اْلقِبْلَةَ فَكَبّرْ. مسلم 1: 298

Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Apabila kamu akan mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudlu, kemudian menghadaplah ke qiblat, lalu bertakbirlah". [HR. Muslim, juz 1, hal. 298]
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: بَيْنَمَا النَّاسُ بِقُبًا فِى صَلاَةِ الصُّبْحِ اِذْ جَاءَهُمْ آتٍ فَقَالَ: اِنَّ النَّبِيَّ ص قَدْ اُنْزِلَ عَلَيْهِ اللَّيْلَةَ قُرْآنٌ وَ قَدْ اُمِرَ اَنْ يَسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةَ، فَاسْتَقْبَلُوْهَا. وَ كَانَتْ وُجُوْهُهُمْ اِلَى الشَّامِ فَاسْتَدَارُوْا اِلَى اْلكَعْبَةِ.احمد والبخارى ومسلم، فى نيل الاوطار 2: 186

Dari Ibnu 'Umar, ia berkata : Pada suatu ketika orang-orang sedang shalat di (masjid) Quba', tiba-tiba datang seseorang kepada mereka dan berkata, "Sesungguhhnya tadi malam telah diturunkan (ayat) Qur'an kepada Nabi SAW yang menyatakan bahwa beliau diperintahkan supaya menghadap qiblat", maka mereka lalu menghadap qiblat (yang berada di Makkah). Dan pada waktu itu mereka shalat menghadap ke Syam lantas mereka sama berputar menghadap ke Ka'bah. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 186]

عَنْ اَنَسٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ يُصَلّى نَحْوَ بَيْتِ اْلمَقْدِسِ فَنَزَلَتْ قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَآءِ فَلَنُوَلّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلّ وَجْهَكَ شَطْرَ اْلمَسْجِدِ اْلحَرَامِ. فَمَرَّ رَجُلٌ مِنْ بَنِى سَلَمَةَ وَ هُمْ رُكُوْعٌ فِى صَلاَةِ اْلفَجْرِ وَ قَدْ صَلَّوْا رَكْعَةً فَنَادَى: اَلاَ اِنَّ اْلقِبْلَةَ قَدْ حُوّلَتْ فَمَالُوْا كَمَا هُمْ نَحْوَ اْلقِبْلَةِ. احمد و مسلم و ابو داود، فى نليل الاوطار 2: 186


Dari Anas, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW dahulu shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis, lalu turun ayat (yang artinya) : Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke qiblat yang kamu sukai. Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram". [QS. Al-Baqarah : 144] Kemudian ada seorang dari banu Salamah lewat, sedang orang-orang tengah ruku' dalam shalat Shubuh dan mereka telah mendapat satu rekaat, lalu orang tersebut menyeru, "Ketahuilah, sesungguhnya qiblat telah dipindahkan". Lalu mereka sama berputar sebagaimana orang lain, yaitu menghadap qiblat (Ka'bah)". [HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 186]

3.) Bila Qiblat Tidak Dapat Diketahui.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيْعَةَ عَنِ اَبِيْهِ قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيّ ص فِى سَفَرٍ فِى لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ فَلَمْ نَدْرِ اَيْنَ اْلقِبْلَةُ فَصَلَّى كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا عَلَى حِيَالِهِ. فَلَمَّا اَصْبَحْنَا ذَكَرْنَا ذ?لِكَ لِرَسُوْلِ اللهِ ص فَنَزَلَتْ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ.(البقرة: 115) الترمذى 4: 273

Dari 'Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah, dari bapaknya, ia berkata : Dulu kami pernah bersama Nabi SAW pada suatu malam yang gelap gulita, sehingga kami tidak mengetahui dimana arah qiblat. Maka setiap orang diantara kami shalat menghadap menurut pendapat masing-masing. Setelah waktu Shubuh, kami beritahukan hal itu kepada Nabi SAW, maka turunlah ayat (yang artinya) [Maka kemanapun kamu menghadap, di situlah wajah Allah]. QS Al-Baqarah :115. [HR Tirmidzi juz 3, hal. 273]

عَنْ مُعَاذٍ بْنِ جَبَلٍ قَالَ: صَلَّيْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص فِى يَوْمٍ غَيْمٍ فِى سَفَرٍ اِلَى غَيْرِ اْلقِبْلَةِ. فَلَمَّا قَضَى الصَّلاَةَ وَ سَلَّمَ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، صَلَّيْنَا اِلَى غَيْرِ اْلقِبْلَةِ. فَقَالَ: قَدْ رُفِعَتْ صَلاَتُكُمْ بِحَقّهَا اِلَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ. الطبرانى فى الاوسط، فى مجمع الزوائد 2: 92

Dari Mu'adz, ia berkata : Pada suatu hari dalam perjalanan (yang gelap karena) mendung, kami pernah shalat bersama Rasulullah SAW dengan tidak menghadap qiblat. Maka setelah selesai shalat dan sudah mengucap salam, matahari mulai tampak (dari balik mendung). Lalu kami berkata kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, kita tadi shalat dengan tidak menghadap qiblat". Rasulullah SAW bersabda, "Shalat kalian sudah dinaikkan ke hadlirat Allah 'Azza wa Jalla dengan haqnya". [HR. Thabrani dalam Al-Ausath, dalam Majma'uz Zawaaid juz 2, hal. 92]

عَنِ اْلبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص صَلَّى نَحْوَ بَيْتِ اْلمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا اَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا وَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُحِبُّ اَنْ يُوَجَّهَ اِلىَ اْلكَعْبَةِ فَاَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ (قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاءِ) فَتَوَجَّهَ نَحْوَ اْلكَعْبَةِ وَ قَالَ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ وَ هُمُ اْليَهُوْدُ (مَا وَلاَّهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِيْ كَانُوْا عَلَيْهَا، قُلْ ِللهِ اْلمَشْرِقُ وَ اْلمَغْرِبُ، يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ اِلى? صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ) فَصَلَّى مَعَ النَّبِيّ ص رَجُلٌ ثُمَّ خَرَجَ بَعْدَ مَا صَلَّى فَمَرَّ عَلَى قَوْمٍ مِنَ اْلاَنْصَارِ فِى صَلاَةِ اْلعَصْرِ نَحْوَ بَيْتِ اْلمَقْدِسِ، فَقَالَ: هُوَ يَشْهَدُ اَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص وَ اَنَّهُ تَوَجَّهَ نَحْوَ اْلكَعْبَةِ فَتَحَرَّفَ اْلقَوْمُ حَتَّى تَوَجَّهُوْا نَحْوَ اْلكَعْبَةِ. البخارى 1: 104

Dari Baraa' bin 'Aazib, ia berkata : Dahulu Rasulullah SAW pernah shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, sedangkan Rasulullah SAW itu sebenarnya senang sekali jika diperintahkan menghadap ke arah Ka'bah. Kemudian Allah 'Azza wa Jalla menurunkan wahyu yang artinya : Sungguh Kami sering melihat mukamu menengadah ke langit .... . Kemudian Nabi SAW menghadap ke Ka'bah. Dan orang-orang bodoh diantara manusia, yaitu orang-orang Yahudi berkata, "Apakah yang memalingkan mereka (ummat Islam) dari qiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berqiblat kepadanya ?". Allah menurunkan wahyu-Nya : Katakanlah, "Kepunyaan Allah lah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. [QS. Al-Baqarah : 142]. Kemudian ada seorang laki-laki shalat bersama Nabi SAW, setelah selesai shalat, mereka bepergian, lalu melewati suatu kaum dari orang-orang Anshar yang sedang shalat 'Ashar menghadap ke Baitul Maqdis. Lalu orang laki-laki itu mengatakan bahwa ia bersaksi sungguh ia baru saja shalat bersama Rasulullah SAW, dan sesungguhnya beliau mengadap ke arah Ka'bah, lalu kaum tersebut merubah arah qiblat mereka dan menghadap ke Ka'bah". [HR. Bukhari juz 1, hal. 104]

4.) Wajibnya Memulai Shalat dengan Takbir Dan Mengangkat Tangan.


عَنْ عَلِيّ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُوْرُ وَ تَحْرِيْمُهَا التَّكْبِيْرُ وَ تَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمُ. الترمذى 1: 5

Dari 'Ali (bin Abu Thalib), dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Kuncinya shalat itu ialah bersuci, mulainya shalat ialah takbir dan selesainya shalat ialah mengucap salam". [HR. Tirmidzi juz 1, hal. 5]

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ سَمْعَانَ قَالَ: سَمِعْتُ اَبَا هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا قَامَ اِلَى الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ مَدًّا. الترمذى 1: 152

Dari Sa'id bin Sam'aan, ia berkata : Aku mendengar Abu Hurairah berkata, "Adalah Rasulullah SAW apabila berdiri melaksanakan shalat, beliau (memulainya dengan) mengangkat kedua tangannya pelan-pelan". [HR. Tirmidzi juz 1, hal. 152]

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ اَنَّهُ رَأَى رَسُوْلَ اللهِ ص يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ التَّكْبِيْرَةِ. احمد و ابو داود، فى نيل الاوطار 2: 200

Dari Wail bin Hujr bahwasanya ia pernah melihat Nabi SAW mengangkat dua tangannya sambil mengucap takbir. [HR.Ahmad dan Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 200]

عَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رض قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ ص اِفْتَتَحَ التَّكْبِيْرَ فِى الصَّلاَةِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِيْنَ يُكَبّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَ اِذَا كَبّر لِلرُّكُوْعِ فَعَلَ مِثْلَهُ و َاِذَا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَهُ وَ قَالَ: رَبَّنَا وَ لَكَ اْلحَمْدُ. وَ لاَ يَفْعَلْ ذ?لِكَ حِيْنَ يَسْجُدُ. وَ لاَ حِيْنَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُوْدِ. البخارى 1: 180

Dari 'Abdullah bin 'Umar RA, ia berkata, "Aku melihat Nabi SAW memulai dengan takbir ketika shalat, beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir sehingga sejajar dengan kedua bahunya, dan apabila takbir untuk ruku' beliau melakukan seperti itu. Dan apabila mengucap Sami'alloohu liman hamidah, beliau melakukan seperti itu juga, dan beliau mengucapkan Robbanaa wa lakal hamdu. Dan beliau tidak mengerjakan yang demikian itu ketika akan sujud dan tidak pula ketika mengangkat kepalanya dari sujud". [HR. Bukhari juz 1, hal. 180]

عَنْ نَافِعٍ اَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ اِذَا دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ كَبَّرَ وَ رَفَعَ يَدَيْهِ. وَ اِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ. وَ اِذَا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ. وَ اِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ. وَ رَفَعَ ذ?لِكَ ابْنُ عُمَرَ اِلَى النَّبِيّ ص.البخارى والنسائى وابو داود،فى نيل الاوطار2: 204

Dari Nafi', bahwasanya Ibnu 'Umar apabila memasuki shalat, ia bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Dan apabila ia ruku' mengangkat kedua tangannya, dan apabila mengucapkan Sami'alloohu liman hamidah, mengangkat kedua tangannya. Dan apabila berdiri dari dua rekaat, mengangkat kedua tangannya. Dan Ibnu Umar memarfu'-kan hadits itu kepada Nabi SAW. (Ia mengatakannya dari Nabi SAW)". [HR. Bukhari, Nasai dan Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 204]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا قَامَ لِلصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُوْنَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ كَبَّرَ، فَاِذَا اَرَادَ اَنْ يَرْكَعَ فَعَلَ مِثْلَ ذ?لِكَ، وَ اِذَا رَفَعَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَعَلَ مِثْلَ ذ?لِكَ، وَ لاَ يَفْعَلُهُ حِيْنَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُوْدِ. مسلم 1: 292

Dari Ibnu 'Umar, ia berkata, "Adalah Rasulullah SAW apabila berdiri untuk shalat, beliau mengangkat kedua tangannya sehingga sejajar dengan kedua bahunya kemudian bertakbir. Maka apabila akan ruku' beliau melakukan seperti itu, apabila bangun dari ruku' beliau melakukan seperti itu, dan beliau tidak melakukan yang demikian (mengangkat tangan) ketika mengangkat kepalanya dari sujud". [HR. Muslim juz 1, hal. 292]

عَنْ اَبِى قِلاَبَةَ اَنَّهُ رَأَى مَالِكَ بْنَ اْلحُوَيْرِثِ اِذَا صَلَّى كَبَّرَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ. وَ اِذَا اَرَادَ اَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ. وَ اِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ رَفَعَ يَدَيْهِ. وَ حَدَّثَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ يَفْعَلُ ه?كَذَا. مسلم 1: 293

Dari Abu Qilabah, bahwasanya ia melihat Malik bin Al-Huwairits, apabila mengerjakan shalat, ia bertakbir lalu mengangkat kedua tangannya, dan apabila akan ruku' mengangkat kedua tangannya, juga apabila mengangkat kepalanya dari ruku', ia mengangkat kedua tangannya. Dan ia menceritakan bahwasanya Rasulullah SAW berbuat seperti itu. [HR. Muslim juz 1, hal. 293].

عَنْ مَالِكِ بْنِ اْلحُوَيْرِثِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ اِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا اُذُنَيْهِ. وَ اِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يحَاذِيَ بِهِمَا اُذُنَيْهِ. وَ اِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ فَقَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ. فَعَلَ مِثْلَ ذ?لِكَ. مسلم 1: 293

Dari Malik bin Huwairits bahwasanya Rasulullah SAW dahulu apabila bertakbir, mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan dua telinganya. Dan apabila akan ruku' mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan dua telinganya, dan apabila mengangkat kepalanya dari ruku' dengan mengucap Sami'alloohu liman hamidah, berbuat seperti itu. [HR. Muslim juz 1, hal. 293].

Bersambung pada halamam berikutnya; Dalil-dalal tentang Posisi tangan Bersedekap, Doa Iftitah, Membaca taawwudz

Brosur MTA Kedudukan Hadits-Hadits Tentang Hukum Musik Dan Nyayian || Umat Muslim Wajib Baca Terutama Para Ustadz

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.. Saudaraku semua muslimn dan muslimat dimanapun anda berada, Alhamdulillah pada halaman ini dapat anda baca Hadits-Hadits atau dalil-dalil lengkap tentang hukum musik dan nyayian dalam islam, yang telah kami rangkum dari berbagai kitab. Zoom In untuk memperbesar, sentuh dan tahan lalu pilih download gambar untuk disimpan dalam perangkat anda. Musik Ada ulama yang bilang halal ada juga yang haram pada hal dalilnya sama-sama di baca itu-itu juga. Berarti kita salah dalam memahami, atau mungkin mereka yang bilang haram hanya membaca sebagian hadits, tidak di baca semuanya? sehingga di "Gebyah Uyah" hukumnya Haram. 

Padahal Musik itu hanya sebuah alat, bukan sesuatu yang di konsumsi lalu masuk kedalam perut, Berbeda jika yang namanya musik itu makanan maka masuk dalam ketegori halal dan haram. Untuk lebih lengkapnya silakan anda baca dengan hati yang bersih, jangan ada rasa benci, iri, dengki dan sombong serta sentimen dahulu pada golongan lain (dalam hal ini MTA) seolah-olah pendapat anda yang paling benar. Kebenaran itu hanya pada Alloh dan Rasulnya yang membawa kabar.

Brosur MTA Fadlilah Yasiin ke 5 || Kedudukan Hadits Dha'if Anjuran Baca di Kuburan, Dapat Memenuhi Kebutuhan, Matinya Syahid

Assalamualaikum, berikut ini kami cantumkan brosur dari Majelis Tafsir Alquran (MTA) tanggal 10 februari 2008 dengan tema; Kedudukan Hadits-Hadits Fadlilah Surat Yasin Bagian ke 5 yang dipastikan tidak shohih alias dha'if, yang selama ini diyakini dan selalu di amalkan. Keutamaanya antara lain;
  • Anjuran supaya di baca di kuburan agar meringankan siksa ahli kubu, dan yang membaca mendapatkan pahala kebaikan setiap hurufnya dan sebanyak orang yang dikubur.
  • Mengamalkan baca surat yasin meninggalnya dalam keadaan mati syahid.
  • Membaca surat yasin dapat memenuhi segala kebutuhan.
  • Mendengarkan bacaan surat yasin sama dengan ifaq fisabilillah.
Untuk penjelasan lengkapnya dapat anda baca kumpulan hadist dha'if fadlilah Surat Yasin berikut ini;

Brosur MTA Fadlilah Yasiin ke 4 | Kedudukan Hadits Dha'if Yasiin Baca Tiap Malam di Ampuni Dosanya di Pagi Terpenuhi Segala Keperluan

Dalam halaman ini kami cantumkan kumpulan hadit-hadits dhaif fadlilah surat Yasiin dari Majelis Tafsir Alquran pada tanggal 3 Februari tahun 2008. Kedudukan Hadits-Hadits Amalan  Surat Yasiin di Baca Tiap Malam maka akan di Ampuni Dosanya di baca di Pagi Terpenuhi Segala Keperluan;

Dari Al-Hasan, ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa membaca Yaasiin pada malam hari, maka pada pagi itu ia diampuni (dari dosanya). Dan barangsiapa membaca Haamiim, surat Ad-Dukhaan pada malam Jum'at, maka pada pagi itu ia diampuni (dari dosanya). [HR. Abu Ya'laa Al-Maushiliy juz 5, hal. 390, no. 6196]

Dari 'Atha' bin Abi Rabah, ia berkata: Telah sampai berita kepadaku, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang membaca surat Yaasiin pada permulaan siang, niscaya terpenuhi segala keperluannya". [HR. Darimi juz 2, hal. 457, no. 3268]
Adapun sanad hadits tersebut adalah sebagai berikut:
Nabi SAW - 'Atha' bin Abu Rabah (tidak mendengar dari Nabi SAW) Muhammad bin Juhadah --- Ziyad bin Khaitsamah --- Abuuhu --- Al-Walid bin Syuja' --- Darimiy.
Hadits ini dla'if, karena hadits ini mursal. Yakni 'Atha' bin Abi Rabah bukan shahabat, sehingga tidak jelas dari siapa dia mendapatkan hadits ini. Selengkapnya silakan baca brosurnya dibawah ini [Supported by WakidsTV Channel ]


Brosur MTA Fadlilah Yasiin ke 3 || Kedudukan Hadits Dha'if Surat Yasin di Bacakan Orang Meninggal & Agar di Rendam Airnya di Minum

Assalamualaikum saudaraku semua pada halaman ini kami cantumkan brosur dari Majelis Tafsir Alquran pada tanggal 27 januari tahun 2008 mengangkat tema tentang Kedudukan Hadits-Hadits Fadlilah membaca surat Yasin bagian ke 3. Hadis dhaif perintah untuk membacakan suarat yasiin kepada orang yang akan meninggal dunia. Dan khasiat ayat dalam surat yasiin agar di rendam kedalam air lalu di minum airnya:

Dari Abu Ja'far Muhammad bin Ali, ia berkata: Barangsiapa yang mendapati kekerasan di dalam hatinya, maka tulislah Yaasiin wal qur'aani, lalu menaruh dalam gelas (berisi air) dengan za'faraan, kemudian (hendaklah) meminumnya. [HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 2, hal. 465, no. 3603]

Dari Syuraih, dari Abud Darda' dan Abu Dzarr, keduanya berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah orang yang akan meninggal, lalu dibacakan surat Yaasiin disampingnya, melainkan Allah 'Azza wa Jalla meringankannya. [Shahibul Firdaus] Selengkapnya silakan baca brosurnya berikut ini ada 4 halaman. [Supported by WakidsTV Channel ]


Brosur MTA Yasiin Bagian 2 || Kedudukan Hadits-Hadits Fadlilah Yasin Sebagai Pengampunan Dosa & 1 x Baca Sama Dengan 20x Haji

Berikut ini kami sajikan brosur dari Majelis Tafsir Alquran pada tanggal 20 januari tahun 2008 mengangkat tema tentang Kedudukan Hadits-Hadits Fadlilah membaca surat Yasin Sebagai Pengampunan Dosa dan membaca 1 x Sama Dengan 20x ibadah Haji. Dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa membaca surat Yaasiin pada malam hari dengan mengharap ridla Allah, maka diampuni baginya (dari dosanya) pada malam itu". [HR. Darimiy juz 2, hal. 457, no. 3267]

Dari Ali RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa mendengar surat Yaasiin maka untuknya pahala sama dengan (berinfaq) dua puluh dinar fii sabiilillaah, barangsiapa yang membacanya maka hal itu mengimbangi dua puluh kali hajji, dan barangsiapa yang menulis serta meminum airnya, maka ia memasukkan ke dalam tubuhnya seribu yaqin, seribu cahaya, seribu berkah, seribu rahmat, seribu rezqi, dan akan menghilangkan semua dengki dan penyakit hati". [HR Al-Khathiib Al- Baghdaadiy juz 6, hal. 248] Selengkapnya silakan baca brosurnya berikut ini ada 4 halaman. [Supported by WakidsTV Channel]

Brosur MTA Yasiin Bagian 1 || Kedudukan Hadis-Hadits Fadlilah Surat Yasiin Sebagai Qolbul Qur'an & Pahala Berlipat

Berikut ini Brosur dari Pengajian Ahad Pagi Majelis Tafsir Alquran (Jihad Pagi MTA) pada tanggal 9 januari tahun 2008  Hadits-hadits Fadlilah membaca Surat Yasiin Bagian 1 pembahasan tentang Surat Yasin Sebagai Qolbul Qura'an (hatinya Alqur'an) dan Jika Surat Yasin di baca 1 kali sama dengan 10 kali khatam baca Alquran, Hadits Dha'if Fadlilah membaca surat yasin. tanggal 09/01/2008. [ Supported by Wakids TV Channel) 



MAJLIS TAFSIR AL-QUR'AN
(MTA) PUSAT
http://www.mta-online.com e-mail : humas_mta@yahoo.com Fax : 0271 661556
Jl. Serayu no. 12, Semanggi 06/15, Pasarkliwon, Solo, Kode Pos 57117, Telp. 0271 643288

KHUSUS UNTUK PARA SISWA/PESERTA
Ahad, 09 Januari 2008/04 Muharram 1429
Brosur No. : 1406/1446/IF

KEDUDUKAN HADITS-HADITS FADLILAH YAASIIN (ke-1)

Yaasiin qalbul qur'an

Hadits ke-1

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا، وَ اِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس. مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشْرَ مَرَّاتٍ.
[الدارمى 2: 456، رقم: 3266]

Dari Qatadah, dari Anas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya bagi setiap sesuatu itu ada qalbu (hatinya), dan sesungguhnya qalbul Qur'an itu adalah surat Yaasiin. Barangsiapa yang mebacanya, seolah-olah ia membaca Al-Qur'an sepuluh kali”. [HR. Darimiy juz 2, hal. 456, no. 3266]

Adapun para perawi/sanad hadits tersebut adalah sebagai berikut :
Nabi SAW --- Anas --- Qatadah --- Muqatil bin Hayyan --- Harun Abu Muhammad --- Al-Hasan bin Shalih --- Humaid bin 'Abdur Rahman --- Muhammad bin Sa'id --- Darimiy.

Hadits ini dla'if karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Harun Abu Muhhammad.

Tirmidzi mengatakan : ia itu majhul (mizaanul I'tidal juz 4, hal. 288, no. 9178)

Di tempat lain Tirmidzi juga mengatakan, “Hadits ini gharib, dan Harun Abu Muhammad adalah majhul”. [At-Tarikhul Kabir juz 8, hal. 226, no. 2815]

Hadits ke-2

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: اِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا، وَ قَلْبُ الْقُرْآنِ يس. وَ مَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ.
[الترمذى عارضة الاحوذى 11: 15، رقم: 2887]

Dari Qatadah, dari Anas, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya bagi setiap sesuatu itu ada qalbu (hatinya), dan qalbul Qur'an itu adalah surat Yaasiin. Barangsiapa yang membaca surat Yaasiin, Allah mencatatnya dengan bacaan itu sama dengan membaca Qur'an sepuluh kali”. [HR. Tirmidziy dalam 'Aridlatul Ahwadziy juz 11, hal. 15, no. 2887]

Adapun sanad hadits ini sebagai berikut :
Nabi SAW --- Anas --- Qatadah --- Muqatil bin Hayyan --- Harun Abu Muhammad --- Al-Hasan bin Shalih --- Humaid bin 'Abdur Rahman Ar-Ruaasiy --- Qutaibah dan Sufyan bin Waqi' --- Trimidzi.

Hadits ini dla'if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Harun Abu Muhammad, ia majhul.

Baihaci meriwayatkan hadits tersebut dengan matan dan sanad yang hampir sama. Perbedaan sanadnya adalah nama Harun Abu Muhammad yang terdapat dalam sanadnya Darimiy tersebut tertulis dalam sanadnya Baihaqiy dengan nama Harun bin Muhammad. Haditsnya sebagai berikut :

Hadits ke-3

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبٌ، وَ اِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس. مَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ.
[البيهقى فى شعب الايمان 2: 479، رقم: 2460]

Dari Qatadah, dari Anas bin Malik, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Berikut adalah transkripsi teks dari gambar tersebut:


“Bagi setiap sesuatu itu ada qalbu (hatinya), dan sesungguhnya qalbul Qur’an itu adalah surat Yaasiin. Barangsiapa yang membacanya, Allah mencatatnya dengan bacaan itu sama dengan membaca Al-Qur’an sepuluh kali”. [HR. Baihaqi, dalam Syu’abul Iman juz 2, hal 479, no. 2460]

Adapun sanad hadits tersebut adalah sebagai berikut :

Nabi SAW --- Anas bin Malik --- Qatadah --- Muqatil bin Hayyan --- Harun bin Muhammad --- Al-Hasan bin Shalih --- Humaid bin ‘Abdur Rahman --- Qutaibah bin Sa’id --- Abu ‘Abdillah Muhammad bin Al-Fadl Az-Zahid --- Abul Fadl --- Ahmad bin Ismail bin Yahya bin Hazim Al-Azdiy --- Abu Sa’ad ‘Abdul Malik bin Abu ‘Utsman Az-Zahid --- Baihaqiy.

Hadits ini dla’if karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Harun bin Muhammad (dalam riwayat Darimiy disebutkan Harun Abu Muhammad). Perbedaan semacam ini bahkan menambah kemajhulan Harun Abu Muhammad, dan semakin menyatakan kedla’ifan hadits tersebut. Karena, dengan nama Harun bin Muhammad, berarti itu dua orang, yakni Harun dan Muhammad (bapaknya Harun), lalu perlu dipertanyakan : Siapakah Harun dan siapakah Muhammad itu ?. Lagi pula nama tersebut dalam kitab-kitab Rijalul hadits tidak tercatat sebagai murid Muqatil bin Hayyan, dan tidak tercatat sebagai guru dari Hasan bin Shalih.

Hadits ke-4

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: الْبَقَرَةُ سَنَامُ الْقُرْاٰنِ وَ ذِرْوَتُهُ نَزَلَ مَعَ كُلِّ اٰيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُوْنَ مَلَكًا وَ اسْتُخْرِجَتْ اَللهُ لَا اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ فَوُصِلَتْ بِهَا اَوْ فُوُصِلَتْ بِسُوْرَةِ الْبَقَرَةِ، وَ يس قَلْبُ الْقُرْاٰنِ، لَا يَقْرَاُّهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ تَبَارَكَ وَ تَعَالٰى وَ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ اِلَّا غُفِرَ لَهُ فَاقْرَاُؤْهَا عَلٰى مَوْتَاكُمْ. احمد 7: 286، رقم: 20322

Dari Ma’qil bin Yasar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Al-Baqarah adalah inti dan puncaknya Al-Qur’an. Delapan puluh malaikat


turun menyertai setiap ayat, Dan dikeluarkan (kalimat) “Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum” dari bawah ‘Arsy, lalu disambungkan dengannya atau disambungkan dengan surat Al-Baqarah. Dan Yaasiin adalah qalbul Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya dengan mengharap (ridla) Allah tabaaraka wa ta’aalaa dan kampung akhirat melainkan diampuni dosanya. Dan bacakanlah ia (surat Yaasiin itu) untuk orang yang akan meninggal diantara kalian”. [HR. Ahmad, juz 7, hal. 286, no. 20322]

Adapun sanad hadits tersebut adalah sebagai berikut :

Nabi SAW --- Ma’qil bin Yasar --- Abiihi (bapaknya) --- Rajulun (seorang laki-laki) --- Abiihi (bapaknya, bernama Sulaiman bin Tharkhan At-Taimiy Abul Mu’tamir Al-Bashriy) --- Mu’tamir --- ‘Arim --- Ahmad.

Hadits ini dla’if, karena dalam sanadnya ada dua perawi yang majhul, yaitu Rajulun (seorang laki-laki) dan Abiihi (bapaknya), yang tidak didapatkan keterangan siapakah Rajulun maupun Abiihi itu.

Selain itu, ada rawi yang bernama Sulaiman yaitu bapaknya Mu’tamir yang nama lengkapnya Sulaiman bin Tharkhan At-Taimiy Abul Mu’tamir Al-Bashriy. Ia dinyatakan sebagai mudallis terhadap hadits-hadits yang tidak didengarnya dari Al-Hasan dan lain-lainnya (lihat Tahdzibul Kamal juz 12, hal. 13, Mizaanul I’tidal juz 2, hal. 212). Apalagi pada sanad hadits ini ia menerima dari Rajulun (seorang laki-laki) yang tidak disebutkan namanya.

Hadits ke-5

عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَجُلًا يُحَدِّثُ اَنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا وَ قَلْبُ الْقُرْاٰنِ يس.

Dari Abdur Razzaaq, dari Ma’mar, ia berkata, “Saya mendengar seorang laki-laki menceritakan bahwasanya pada setiap sesuatu itu ada qalbunya, dan qalbul Qur’an itu adalah Yaasiin.

Hadits ini pun dla’if karena disamping bukan sabda Nabi SAW, Ma’mar menyatakan menerima dari seorang laki-laki yang tidak disebutkan namanya.

Kesimpulan :

Hadits-hadits di atas semuanya dho’if, karena itu tidak dapat dijadikan
Berikut adalah hasil transkripsi teks dari gambar tersebut:


hujjah untuk menunjukkan bahwa surat Yaasiin adalah qalbul Qur'an.

Kelipatan bacaan Yaasiin

Hadits ke-6

عَنْ اَبِىْ هُرَيْرَةَ قَالَ: مَنْ قَرَأَ يس مَرَّةً فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشْرَ مَرَّاتٍ. وَ قَالَ اَبُوْ سَعِيْدٍ: مَنْ قَرَأَ يس مَرَّةً فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ مَرَّتَيْنِ. قَالَ اَبُوْ هُرَيْرَةَ: حَدَّثْتَ أَنْتَ بِمَا سَمِعْتَ وَ أُحَدِّثُ اَنَا بِمَا سَمِعْتُ. [البيهقى فى شعب الايمان 2: 281، رقم: 2466]

Dari Abu Hurairah RA, ia mengatakan, "Barangsiapa yang membaca Yaasiin satu kali, maka seolah-olah telah membaca Al-Qur'an sepuluh kali". Dan Abu Sa'id pun berkata, "Barangsiapa yang membaca Yaasiin satu kali, maka seolah-olah ia telah membaca Al-Qur'an dua kali". Abu Hurairah berkata (kepada Abu Sa'id), "Engkau menceritakan hadits menurut yang engkau dengar, dan akupun menceritakan hadits menurut yang aku dengar". [HR. Baihaqi dalam Syu'abul Iman juz 2, hal. 281, no. 2466]

Adapun sanad hadits tersebut sebagai berikut :

Abu Hurairah --- Abu 'Utsman --- Sulaiman At-Taimiy --- Suwaid Abu Hatim --- Thalut bin 'Ibad --- Al-Mu'tamir --- Ahmad bin 'Ubaid Ash-Shafar --- 'Ali bin Ahmad bin 'Abdan --- Baihaqiy.

Hadits ini dla'if, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Abu 'Utsman yang menerima dari Abu Hurairah, ia dinyatakan majhul.

Hadits ke-7

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص: لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبٌ وَ اِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس. مَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا
قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ. [البيهقى فى شعب الايمان 2: 479، رقم: 2460]

Dari Qatadah, dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Bagi setiap sesuatu itu ada qalbu (hati)nya, dan sesungguhnya qalbul Qur'an itu adalah surat Yaasiin. Barangsiapa yang membaca Yaasiin, maka Allah mencatatnya dengan bacaan itu sama dengan membaca Al-Qur'an sepuluh kali". [HR. Baihaqiy, dalam Syu'abul Iman juz 2, hal. 479, no. 2460]

Adapun sanad hadits tersebut sebagai berikut :

Nabi SAW --- Anas bin Malik --- Qatadah --- Muqatil bin Hayyan --- Harun bin Muhammad --- Al-Hasan bin Shalih --- Humaid bin 'Abdur Rahman --- Qutaibah bin Sa'id --- Abu 'Abdillah Muhammad bin Al-Fadl Az-Zahid --- Abul Fadl Ahmad bin Ismail bin Yahya bin Hazim Al-Azdiy --- Abu Sa'ad 'Abdul Malik bin Abu 'Utsman Az-Zahid --- Baihaqiy.

Hadits ini lemah, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Harun bin Muhammad, ia majhul. Demikian pula hadits yang semakna yang diriwayatkan oleh Darimiy melalui sanad yang sama dengan sanad Baihaqiy di atas, hanya saja Qutaibah bin Sa'id yang ada pada sanad Baihaqiy di atas, pada sanad Darimiy tertulis dengan nama Muhammad bin Sa'id, dan Darimiy sendiri menerima dari Muhammad bin Sa'id tersebut. Kami belum mendapat keterangan yang manakah yang benar, apakah dengan nama Qutaibah bin Sa'id sebagaimana pada sanad Baihaqi, ataukah dengan nama Muhammad bin Sa'id sebagaimana sanad pada Darimiy.

Hadits ke-8

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ اَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا، وَ اِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس. مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشْرَ مَرَّاتٍ. [الدارمى 2: 456، رقم: 3266]

Dari Qatadah, dari Anas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya bagi setiap sesuatu itu ada qalbu (hati)nya, dan sesungguhnya qalbul Qur'an itu adalah surat Yaasiin. Barangsiapa yang mebacaNya, seolah-olah ia membaca Al-Qur'an sepuluh kali". [HR. Darimiy juz 2, hal. 456, no. 3266]

Adapun sanad hadits tersebut sebagai berikut :

Nabi SAW --- Anas bin Malik --- Qatadah --- Muqatil bin Hayyan --- Harun Abu Muhammad --- Al-Hasan bin Shalih --- Humaid bin 'Abdur Rahman --- Muhammad bin Sa'id --- Darimiy.

Hadits ini dla'if, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Harun Abu Muhammad yang dinyatakn majhul oleh Tirmidzi.

Hadits ke-9
عَنْ أَبِي قِلَابَةَ قَالَ: .... وَ مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ اَحَدَ عَشَرَ مَرَّةً. لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبٌ وَ قَلْبُ الْقُرْآنِ يس. البيهقى، فى شعب الإيمان 2: 481، رقم: 2467

Dari Abu Qilabah, ia berkata, " .....dan barangsiapa yang membacanya (Yaasiin), maka seolah-olah ia telah membaca Al-Qur'an sebelas kali. Bagi setiap sesuatu ada qalbu (hati)nya, dan qalbul Qur'an itu adalah Yaasiin". [HR. Baihaqi, Syu'abul Imaan juz 2, hal. 481, no. 2467]

Adapun sanad hadits tersebut sebagai berikut :

Abu Qilabah --- Ayyub As-Sakhtiyaniy --- Khalil bin Murrah --- Ma'mar bin Sulaiman An-Nakhaa-i --- Sa'dan bin Nashr --- Isma'il bin Muhammad Ash-Shafar --- Abul Husain bin Bisyran --- Baihaqiy.

Hadits ini dla'if, karena disamping haditsnya maqthu' (perkataan Abu Qilabah, seorang tabi'in), pada sanadnya ada seorang rawi yang bernama Khalil bin Murrah, nama lengkapnya adalah Khalil bin Murrah Adl-Dluba'i Al-Bashriy, ia oleh Bukhari dinyatakan munkarul hadits, dan haditsnya tidak shahih. [Tahdzibut Tahdzib juz 3, hal. 146, no. 319]

Hadits ke-10
عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَجُلًا يُحَدِّثُ اَنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا وَ قَلْبُ الْقُرْآنِ يس. وَ مَنْ قَرَأَهَا فَإِنَّهَا تَعْدِلُ الْقُرْآنَ. اَوْ قَالَ تَعْدِلُ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ كُلَّهُ. وَ مَنْ قَرَأَ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ رُبُعَ الْقُرْآنِ. وَ اِذَا زُلْزِلَتْ شَطْرَ الْقُرْآنِ.

Dari 'Abdur Razzaaq, dari Ma'mar, ia berkata, "Saya mendengar seorang laki-laki menceritakan bahwasanya pada setiap sesuatu itu ada qalbunya, dan qalbul Qur'an itu adalah Yaasiin. Dan barangsiapa yang membacanya, maka hal itu seimbang membaca Al-Qur'an" atau ia mengatakan, "seimbang dengan bacaan Al-Qur'an seluruhnya. Dan barangsiapa membaca Qul yaa-ayyuhal kaafirun, sesungguhnya hal itu seimbang dengan seperempat Al-Qur'an, dan "Idzaa zulzilat" seimbang dengan separoh Al-Qur'an". [HR Abdur Razzaaq, Al-Mushannaf 'Abdur Rozzaaq juz 3, hal. 372]

Hadits ini dla'if, karena disamping haditsnya maqthu', Ma'mar mengatakan, mendengar dari seorang laki-laki yang tidak ia sebutkan namanya. Dengan demikian rawi tersebut majhul.

Kesimpulan :

Riwayat-riwayat di atas tidak ada satupun yang shahih (semuanya dla'if), disamping itu matannya pun saling bertentangan. Dengan demikian riwayat-riwayat di atas dla'if sanadnya dan mudltharib matannya. Karena itu jika ingin khatam Al-Qur'an, maka tammatkanlah membaca Al-Qur'an termasuk surat Yaasiinnya.

Bersambung.................

SILAHKAN BACA VERSI ASLINYA DELAM FILE IMAGE INI: