Sunnah dan Bid'ah Bagian 1 - Brosur jihad Pagi MTA 25 Nopember 2007

SUNNAH & BID'AH (bagian ke-1)
Ahad, 25 Nopember 2007/15 Dzulqa'dah 1428 | Brosur No. : 1400/1440/IA



Rasulullah SAW bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا مَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيِّهِ. مالك، في الموطأ 2: 899

"Kutinggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat apabila kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya". [HR. Malik dalam Al-Muwaththa' juz 2, hal. 899]

Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW menjamin bahwa orang yang berpegang teguh kepada keduanya, mereka tidak akan sesat.

Tentang Al-Qur'an, kita sudah mengetahui yang dimaksud, adapun tentang sunnah, marilah kita ikuti pembahasannya sebagai berikut :
Arti Sunnah menurut bahasa
Kata Sunnah menurut lughat (bahasa) berarti sebagai berikut :
  1. Undang-undang atau peraturan yang tetap berlaku.
  2. Cara yang diadakan.
  3. Jalan yang telah dijalani.
  4. Keterangan
Dengan singkat dapatlah dijelaskan sebagai berikut :

a) Sunnah yang berarti undang-undang atau peraturan yang tetap berlaku, seperti firman Allah di dalam Al-Qur'an yang bunyinya :

سُنَّةَ مَنْ قَدْ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُّسُلِنَا وَلاَ تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيْلاً. الاسراء: 77

(Yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap Rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu. [QS. Al-Israa' : 77]

سُنَّةَ اللهِ فِي الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللهِ تَبْدِيْلاً. الاحزاب: 62

Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. [QS. Al-Ahzab : 62]
Dengan dua ayat ini jelaslah bahwa kata "sunnah" dalam dua ayat ini berarti peraturan atau undang-undang yang tetap berlaku.

b) Sunnah yang berarti cara yang diadakan, seperti sabda Nabi SAW :

مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ اَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئٌ، وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ اَوْزَارِهِمْ شَيْئٌ. مسلم
4: 2059

Barangsiapa yang mengadakan suatu cara yang baik di dalam Islam lalu (cara itu) diikuti orang sesudahnya, maka ditulis pahala baginya sebanyak pahala orang-orang yang mengikutinya dengan tidak kurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengadakan suatu cara yang buruk di dalam Islam lalu (cara itu) diikuti orang sesudahnya, maka ditulis baginya sebanyak dosa orang-orang yang mengikutinya, dengan tidak kurang sedikitpun dari dosa mereka. [HR. Muslim juz 4, hal. 2059]

c. Sunnah yang berarti jalan atau perjalanan yang telah dijalani, seperti sabda Nabi SAW.

النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.
. ابن ماجه

Nikah (kawin) itu dari sunnahku, maka barangsiapa yang tidak beramal dengan sunnahku, bukanlah ia dari golonganku. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 592]

Sebagaimana diketahui bahwa Nabi SAW itu bukan orang yang pertama kali menjalani nikah, melainkan hanya mengikuti jalan yang pernah dijalani oleh para Nabi yang datang sebelumnya.

Dan seperti sabda Nabi SAW :

أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللهِ ثَلَاثَةٌ: مُلْحِدٌ فِي الْحَرَمِ وَمُبْتَغٍ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ.
. البخاري

Manusia yang paling dibenci Allah ada tiga golongan, yaitu : Yang melakukan kekufuran di tanah haram, dan menghendaki perjalanan jahiliyah di dalam (agama) Islam, dan yang menuntut darah seseorang dengan tidak haq untuk menumpahkan darahnya. [HR. Bukhari]

Dengan dua hadis ini jelaslah kata “sunnah” dalam hadis ini berarti jalan atau perjalanan yang telah dijalani oleh orang yang datang terlebih dahulu.

d. Sunnah yang berarti keterangan, seperti perkataan ulama lughat :

سَنَّ اللهُ أَحْكَامَهُ لِلنَّاسِ

Allah telah menerangkan hukum-hukumnya kepada manusia.

سَنَّ الرَّجُلُ الأَمْرَ


Orang lelaki itu telah menerangkan satu urusan.
Demikianlah diantara arti “sunnah” menurut lughat (bahasa)

Arti Sunnah menurut istilah syara'

Para ulama ahli hadits dan ahli ushul fiqih memberikan ta'rif kata "Sunnah", demikian :

مَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ ص مِنْ أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ وَتَقْرِيرِهِ وَهِمَّتِهِ بِفِعْلِهِ.

"Apa-apa yang datang dari Nabi SAW berupa perkataan-perkataannya, perbuatan-perbuatannya, tagrirnya dan apa-apa yang beliau cita-citakan untuk mengerjakannya".

Jadi sunnah Nabi itu ada 4 macam :

  1. Sunnah Qauliyyah (sunnah yang berupa perkataan Nabi SAW).
  2. Sunnah Fi’liyyah (sunnah yang berupa perbuatan Nabi SAW).
  3. Sunnah Taqririyyah (sunnah yang berupa pengakuan Nabi SAW).
  4. Sunnah Hammiyah (sunnah yang berupa keinginan Nabi SAW).

Dan “Sunnah” bisa pula berarti hukum sunnah, yaitu apabila dilakukan mendapat pahala, apabila ditinggalkan tidak berdosa. Dan “As-Sunnah” dipakai pula sebagai sinonim Al-Hadits.

Imam Asy-Syathibiy berkata dalam kitab Al-Muwafaqat : Kata "As-Sunnah" itu dipakai juga untuk nama bagi segala apa yang tidak diterangkan di dalam Al-Qur'an, baik menjadi keterangan bagi isi Al-Qur'an ataupun tidak. Dan dipakai juga sebagai lawannya "bid'ah". Seperti dikatakan juga : "Si Fulan itu berada pada sunnah". Yakni : ia mengerjakan perbuatan yang sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh Nabi SAW, baik pekerjaan itu ada nash-nya di dalam Al-Qur'an ataupun tidak. Dan seperti dikatakan juga : "Si Fulan dalam bid'ah". Yakni : Apabila ia telah mengerjakan pekerjaan yang berlawanan atau menyalahi perbuatan yang pernah dikerjakan oleh Nabi SAW.

Selanjutnya Asy-Syathibi berkata, "Dan kata "sunnah" ini dipakai juga menjadi nama bagi pekerjaan atau perbuatan para sahabat Nabi, baik pekerjaan itu terdapat dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah ataupun tidak. Karena adanya pekerjaan tersebut dengan mencontoh "sunnah", atau karena ijtihad mereka dengan disepakati para khalifah mereka, yang dikala itu tidak dibantah oleh seorangpun dari mereka. Pemakaian istilah ini disandarkan atas sabda Nabi SAW yang bunyinya :

--فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ.
الدارمي
1:45

"Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang rasyidin yang mengikuti petunjuk". [HR. Darimi juz 1, hal. 45, no. 93].

Fungsi As-Sunnah/Al-Hadits

Telah diketahui dan diyakini oleh segenap ummat Islam, bahwa Nabi Muhammad SAW itu diutus sebagai "muballigh" dari Allah SWT. Firman Allah yang menunjukkan demikian, antara lain :

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ.
المائدة: 67

"Hai Rasul, sampaikanlah apa-apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". [QS. Al-Maidah : 67].

Dan juga sebagai "mubayyin" (yang menerangkan) tentang yang dikehendaki oleh Allah, sebagaimana dinyatakan dengan firman-Nya :

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ.
النحل: 44

Dan Kami (Allah) telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muhammad), supaya kamu menerangkan kepada segenap manusia apa yang diturunkan kepada mereka. Dan supaya mereka memikirkan. [QS. An-Nahl : 44].

Sehubungan dengan itu maka Nabi Muhammad SAW menerangkan Al-Qur'an itu ada kalanya dengan perbuatan, adakalanya dengan perkataan, adakalanya dengan iqrar, dan adakalanya dengan perbuatan dan perkataan. Seperti urusan perintah shalat, beliau mengerjakan dan memerintahkannya, dengan sabdanya :

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي.
البخاري ومسلم

"Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat aku shalat". [HR Bukhari - Muslim]

Beliau mengerjakan ibadah haji dan bersabda :

قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا.
أحمد و مسلم و النسائي

"Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian haji, maka berhajilah".
[HR. Ahmad, Muslim dan Nasai].

Dengan ini jelaslah bahwa "sunnah" itu yang menerangkan isi Al-Qur'an, menjelaskan kesimpulannya, membatasi muthlaqnya dan menguraikan kemusyikilan (kesulitan)nya. Maka dari itu tidak ada sesuatu yang terdapat di dalam sunnah, melainkan Al-Qur'an telah menunjukannya dengan petunjuk yang singkat ataupun yang panjang; secara ijmali maupun tafsili.

Dan di antaranya ada yang umum sekali maksudnya, yaitu ayat yang memerintahkan kita (ummat Islam) mengikuti Rasulullah SAW seperti ayat :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا.
الحشر: 7

"Dan apa-apa yang telah didatangkan Rasul kepadamu, maka ambillah dia; dan apa yang telah dicegah mengerjakannya, maka tinggalkanlah".
[QS. Al-Hasyr : 7].

Imam Sya-Syathibiy berkata di dalam Kitab Al-Muwafaqat, "Urutan "sunnah" itu ada di bawah atau di belakang Al-Qur'an. Adapun keterangannya sebagai berikut :

Pertama, karena Al-Qur'an itu diyakini kebenarannya dengan tegas, sedang As-Sunnah kebenarannya masih di dalam dhann (persangkaan kuat). Jelasnya : Al-Qur'an itu dari segi ketetapan dan kenyataannya adalah diyakini kedatangannya, sedang As-Sunnah itu kebanyakan dari dhann, kecuali yang bertingkatan mutawatir. Oleh sebab itu, yang diyakini dengan tegas harus didahulukan daripada yang madhnun. Dengan demikian maka wajib mendahulukan Al-Qur'an daripada As-Sunnah.

Kedua, As-Sunnah itu adakalanya untuk menjadi keterangan bagi Al-Qur'an, dan ada kalanya untuk menambah keterangan saja. Maka dengan sendirinya As-Sunnah kemudian dari Al-Qur'an. Yakni : Yang menerangkan itu kemudian dari yang diterangkan. Maka jika ia (sunnah) menjadi keterangan, tentu saja ia menjadi yang kedua sesudah yang diterangkan. Dengan ini menunjukkan pula, bahwa Al-Qur'an harus didahulukan.

Ketiga, beberapa hadits dan atsar yang menunjukkan demikian, antara lain seperti hadits Rasulullah SAW ketika mengutus sahabat Mu'adz RA. untuk menjadi pemimpin agama di negeri Yaman, dia ditanya oleh Rasulullah SAW :

قَالَ: بِمَ تَحْكُمُ؟ قَالَ: بِكِتَابِ اللهِ. قَالَ: فَإِنْ لَمْ تَجِدْ؟ قَالَ: بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ. قَالَ: فَإِنْ لَمْ تَجِدْ؟ قَالَ: أَجْتَهِدُ رَأْيِي.
الموافقات 4:6

Nabi SAW bertanya : "Dengan apa engkau menghukumi ?" Jawab Mu'adz : "Dengan Kitab Allah". Nabi SAW berkata : "Jikalau tidak kamu dapati ?" Jawab Mu'adz : "Dengan sunnah Rasulullah". Tanya Nabi SAW : "Jika tidak kamu dapati ?" Jawab Mu'adz : "Saya berijtihad dengan fikiran saya". [Al-Muwafaqaat 4 : 6]

Khalifah Umar bin Khaththab RA pernah mengirim surat kepada Syuraih, ketika ia menjabat qadhi, yang bunyinya :

إِذَا أَتَاكَ أَمْرٌ فَاقْضِ بِمَا فِي كِتَابِ اللهِ، فَإِنْ أَتَاكَ مَا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ فَاقْضِ بِمَا سَنَّ فِيهِ رَسُولُ اللهِ ص.
الموافقات 4:6

"Apabila datang kepadamu suatu urusan, maka hukumilah dengan apa yang ada di dalam Kitab Allah dan jika datang kepadamu apa yang tidak ada di dalam Kitab Allah, maka hukumilah dengan apa yang pernah dihukumi oleh Rasulullah SAW". [Al-Muwafaqaat 4 : 6]

Berkenaan dengan kedudukan sunnah Rasul SAW ini, Imam Syafi'i berkata :

كُلُّ مَا حَكَمَ بِهِ رَسُولُ اللهِ ص فَهُوَ مِمَّا فَهِمَهُ مِنَ الْقُرْآنِ.

"Segala apa yang telah dihukumkan oleh Rasulullah SAW itu, semuanya dari apa-apa yang difahaminya dari Al-Qur'an".

Dan juga beliau berkata :

وَجَمِيعُ السُّنَّةِ شَرْحٌ لِلْقُرْآنِ.

"Dan semua sunnah itu adalah penjelasan bagi Al-Qur'an".

Dalam kitab "Ar-Risalah", Imam Asy-Syafi'i dengan panjang lebar menguraikan tentang keterangan dan kedudukan As-Sunnah terhadap Al-Qur'an yang kesimpulannya sebagai berikut :

  1. As-Sunnah menjadi Bayan Tafshil, keterangan yang menjelaskan ayat-ayat yang mujmal (ringkas).
  2. As-Sunnah menjadi Bayan Takhshish, yaitu keterangan yang menentukan sesuatu dari yang umum.
  3. As-Sunnah menjadi Bayan Ta'yin, yaitu keterangan yang menentukan mana yang dimaksud dari dua atau tiga macam kemungkinan pengertian.
  4. Di samping itu kadang-kadang As-Sunnah mendatangkan suatu hukum yang tidak didapati pokoknya di dalam Al-Qur'an.
  5. Dan dengan As-Sunnah itu dapat dijalankan dalil untuk nasikh-mansukh.
    Yakni : Menentukan mana ayat yang nasikh dan mana yang dimansukhkan dari ayat-ayat yang kelihatannya berlawanan.

Bersambung .......

JANAIZ ke 15 | Brosur Jihad Pagi MTA Ahad, 19 Agustus 2007/06 Sya'ban 1428

Assalamualaikum sahabat semua, dalam halaman ini memuat artikel yang bersumber dari brosur dari MAJLIS TAFSIR AL-QUR’AN (MTA) PUSAT, pada hari Ahad, 19 Agustus 2007/06 Sya'ban 1428 | Brosur No. : 1387/1427/IF dengan tema JANAIZ (ke-15)
Lanjutan...
Dalil-dalil tentang : Siksa Kubur & nikmat Kubur, Diperlihatkan tempat duduknya di surga atau di neraka, Tempat ketetapan ruh, Dibangkitkan pada hari kebangkitan.



3. Siksa qubur / ni’mat qubur.

Menurut hadits-hadits bahwa orang yang mati itu akan mendapat siksa qubur atau ni’mat qubur.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ يَهُودِيَّةً دَخَلَتْ عَلَيْهَا فَذَكَرَتْ عَذَابَ الْقَبْرِ، فَقَالَتْ لَهَا: أَعَاذَكِ اللهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ. فَسَأَلَتْ عَائِشَةُ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ عَذَابِ الْقَبْرِ. فَقَالَ: نَعَمْ، عَذَابُ الْقَبْرِ حَقٌّ. قَالَتْ عَائِشَةُ: فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يُصَلِّى صَلَاةً بَعْدُ إِلَّا تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ.

احمد 9: 532، رقم: 25474

Dari ‘Aisyah, bahwasanya ada seorang wanita Yahudi datang kepadanya, lalu ia menyebutkan tentang siksa qubur. Lalu wanita itu berkata, “Semoga Allah melindungimu dari siksa qubur”. Kemudian ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang siksa qubur, maka beliau menjawab, “Ya benar, adzab qubur itu benar (ada)”. ‘Aisyah berkata, “Sesudah itu aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan shalat melainkan beliau memohon perlindungan dari siksa qubur”. [HR. Ahmad juz 9, hal. 532, no. 25474]

قَالَ النَّبِيُّ ص: يُسَلَّطُ عَلَى الْكَافِرِ فِي قَبْرِهِ تِسْعَةٌ وَ تِسْعُوْنَ تِنِّيْنًا تَلْدَغُهُ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ. احمد و ابو يعلى

Nabi SAW bersabda, “Dilepaskan atas siksa kafir di dalam quburnya, sembilan puluh sembilan ular mematuk (menggigit) dia hingga hari qiyamat”. [HR. Ahmad dan Abu Ya’la]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض عَنِ النَّبِيِّ ص أَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبَانِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَ مَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيْرٍ. أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَ أَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيْمَةِ. ثُمَّ أَخَذَ جَرِيْدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا بِنِصْفَيْنِ، ثُمَّ غَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. فَقَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، لِمَ صَنَعْتَ هٰذَا؟ فَقَالَ: لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا. البخارى 2: 98  

Dari Ibnu ‘Abbas RA, dari Nabi SAW : Bahwasanya Nabi SAW melewati dua qubur, lalu bersabda, “Sesungguhnya kedua-duanya sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa dalam urusan yang (dianggap) besar. Adapun salah seorang dari keduanya, ia tidak membersihkan diri dari kencingnya. Sedangkan yang lain, ia suka mengadu adu”. Kemudian beliau mengambil pelepah kurma yang masih basah, lalu beliau membelahnya menjadi dua bagian, kemudian menancapkan tiap bagian pada setiap qubur. Para shahabat lalu bertanya, “Untuk apakah engkau melakukan itu ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Mudah-mudahan akan diringankan siksa kedua orang ini selama pelepah kurma itu belum kering”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 98]  

قَالَ النَّبِيُّ ص: إِنَّ عَذَابَ الْقَبْرِ مِنْ ثَلَاثَةٍ: مِنَ الْغِيْبَةِ وَ النَّمِيْمَةِ وَ الْبَوْلِ، فَإِيَّاكُمْ وَ ذَلِكَ. البيهقى

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya ‘adzab qubur itu dari tiga perkara : mengumpat, mengadu-adu dan karena (tidak bersih dari) kencing. Karena itu jagalah diri kalian dari yang tersebut itu”. [HR. Baihaqi]

Hadits-hadits tersebut menunjukkan adanya siksa qubur. Adapun yang menunjukkan adanya ni’mat qubur ialah sebagaimana berikut ini :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَلْمُؤْمِنُ فِيْ قَبْرِهِ فِيْ رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ يُرَحَّبُ قَبْرُهُ سَبْعِيْنَ ذِرَاعًا وَ يُنَوَّرُ لَهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ. ابن منده

Rasulullah SAW bersabda, “Orang mu’min di quburnya itu adalah di suatu kebun yang hijau, diluaskan quburnya tujuh puluh hasta dan diterangi baginya seperti bulan purnama”. [HR. Ibnu Mandah]

اَلْقَبْرُ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ جَهَنَّمَ أَوْ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ. البيهقى و ابن ابى الدنيا

Qubur itu suatu lubang dari pada beberapa lubang jahannam, atau satu kebun dari pada kebun-kebun surga. [HR. Baihaqi dan Ibnu Abid Dunyaa]

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللهِ ص: اِنَّ الْعَبْدَ اِذَا وُضِعَ فِيْ قَبْرِهِ وَ تَوَلَّى عَنْهُ اَصْحَابُهُ، اِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ. قَالَ: يَأْتِيْهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُوْلَانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِيْ هٰذَا الرَّجُلِ؟ قَالَ: فَاَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُوْلُ: اَشْهَدُ اَنَّهُ عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ. قَالَ: فَيُقَالُ لَهُ: اُنْظُرْ اِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ قَدْ اَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ الْجَنَّةِ. قَالَ نَبِيُّ اللهِ ص: فَيَرَاهُمَا جَمِيْعًا. قَالَ قَتَادَةُ: وَ ذُكِرَ لَنَا اَنَّهُ يُفْسَحُ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا وَ يُمْلَأُ عَلَيْهِ خَضِرًا اِلَى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ. مسلم 4: 2200

Dari Anas bin Malik, ia berkata : Nabiyullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba jika diletakkan di dalam quburnya dan teman-temannya sudah meninggalkannya, ia mendengar suara sandal mereka. Kemudian ia didatangi dua malaikat, lalu mendudukkannya dan bertanya, “Apa pendapatmu tentang laki-laki ini (Muhammad SAW) ?”. Adapun orang mukmin akan menjawab, “Aku bersaksi bahwa dia hamba Allah dan utusan-Nya”. Maka dikatakan kepadanya, “Lihatlah tempatmu di neraka, Allah telah menggantinya dengan tempat di surga”. Maka ia dapat melihat keduanya”. Qatadah berkata, “Dan disebutkan kepada kami bahwasanya mayyit itu diluaskan quburnya seluas 70 hasta, dan dipenuhi quburnya dengan kenikmatan hingga hari mereka dibangkitkan. [HR. Muslim juz 4, hal. 2200]  

4. Diperlihatkan tempat duduknya di surga atau di neraka.

Orang yang sudah mati akan diperlihatkan tempat duduknya (ketetapannya) di surga atau di neraka setiap pagi dan petang.

اَلنَّارُ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَ عَشِيًّا، وَ يَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ، اَدْخِلُوْا اٰلَ فِرْعَوْنَ اَشَدَّ الْعَذَابِ. المؤمن: 46

Kepada mereka itu diperlihatkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari qiyamat, (diperintahkan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya di dalam sekeras-keras siksa”. [QS. Al-Mu’min : 46]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِنَّ اَحَدَكُمْ اِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَ الْعَشِيِّ اِنْ كَانَ مِنْ اَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ اَهْلِ الْجَنَّةِ وَ اِنْ كَانَ مِنْ اَهْلِ النَّارِ فَمِنْ اَهْلِ النَّارِ. يُقَالُ: هٰذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللهُ اِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. مسلم 4: 2199

Dari Ibnu ‘Umar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya salah seorang diantara kalian apabila meninggal dunia akan diperlihatkan kepadanya tempat duduknya di waktu pagi dan sore. Jika ia termasuk ahli surga, maka akan diperlihatkan surga kepadanya. Dan jika ia termasuk ahli neraka, akan diperlihatkan neraka kepadanya. Lalu dikatakan kepadanya, “Ini adalah tempatmu hingga Allah membangkitkan kamu kepadanya pada hari qiyamat”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2199]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: إِذَا مَاتَ الرَّجُلُ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَ الْعَشِيِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَالْجَنَّةُ وَ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَالنَّارُ. قَالَ ثُمَّ يُقَالُ: هٰذَا مَقْعَدُكَ الَّذِي تُبْعَثُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. مسلم 4: 2199

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Apabila seseorang meninggal dunia, akan diperlihatkan tempat duduknya pada pagi dan petang. Apabila ia termasuk ahli surga maka diperlihatkan surga. Dan jika ia termasuk ahli neraka maka diperlihatkan neraka”. Nabi SAW bersabda : Kemudian dikatakan kepadanya, “Ini adalah tempatmu yang kamu akan dibangkitkan padanya besok pada hari qiyamat”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2199]  

5. Tempat ketetapan ruh.

Tempat ketetapan ruh, yakni orang yang sudah mati, ruhnya akan tetap di tempat yang ditentukan baginya.

عَنْ مَسْرُوْقٍ قَالَ: سَأَلْنَا عَبْدَ اللهِ (هُوَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ) عَنْ هٰذِهِ الْآيَةِ: وَ لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتًا، بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ. (ال عمران: 169) قَالَ: أَمَا إِنَّا قَدْ سَأَلْنَا عَنْ ذٰلِكَ، فَقَالَ: أَرْوَاحُهُمْ فِيْ جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيْلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ، تَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ ثُمَّ تَأْوِيْ إِلَى تِلْكَ الْقَنَادِيْلِ فَاطَّلَعَ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمُ اطِّلَاعَةً، فَقَالَ: هَلْ تَشْتَهُوْنَ شَيْئًا؟ قَالُوْا: أَيَّ شَيْءٍ نَشْتَهِي وَ نَحْنُ نَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شِئْنَا؟. مسلم 3: 1502

Dari Masruq, ia berkata : Kami bertanya kepada Abdullah (yakni Ibnu Mas’ud tentang ayat (yang artinya), “Janganlah sekali-kali kalian menyangka orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, akan tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhan mereka dan diberi rezqi”. (QS. Ali ‘Imran : 169), ‘Abdullah berkata : Ketahuilah, sungguh kami pernah menanyakan hal itu (kepada Nabi SAW), maka beliau bersabda, “Ruh-ruh orang-orang yang mati syahid itu di sisi Allah di tembolok-tembolok burung hijau, untuk mereka itu lampu-lampu yang bergantung di ‘arsy, burung-burung itu berjalan-jalan di surga kemana saja ia suka, kemudian kembali kepada lampu-lampu (yang menggantung di bawah ‘Arsy)”. Kemudian Tuhan muncul kepada mereka lalu berfirman, “Apakah kalian menginginkan sesuatu ?”. Mereka menjawab, “Apa lagi yang kami inginkan, sedangkan kami bisa berjalan-jalan di surga kemana saja yang kami suka ?”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1502]

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: إِنَّمَا نَسَمَةُ الْمُسْلِمِ طَيْرٌ يَعْلُقُ بِشَجَرِ الْجَنَّةِ حَتَّى يُرْجِعَهَا اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ يَبْعَثُهُ. احمد 5: 349: 15780

Dari ‘Abdur rahman bin Ka’ab, dari ayahnya, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Hanyasanya nyawa orang-orang muslim itu adalah burung yang bergantung di pohon surga sehingga Allah ‘Tabaaraka wa Ta’aalaa mengembalikannya ke jasadnya pada hari Allah membangkitkan mereka”. [HR. Ahmad juz 349, no. 25780]

قَالَ النَّبِيُّ ص: إِنَّ أَرْوَاحَ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ يَنْظُرُوْنَ إِلَى مَنَازِلِهِمْ فِي الْجَنَّةِ. ابو نعيم

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya ruh-ruh kaum mu’minin itu adalah di langit yang ke tujuh, melihat tempat kedudukan mereka di surga”. [HR. Abu Nu’aim]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: إِذَا خَرَجَتْ رُوْحُ الْمُؤْمِنِ تَلَقَّاهَا مَلَكَانِ يُصْعِدَانِهَا، قَالَ حَمَّادٌ: فَذَكَرَ مِنْ طِيْبِ رِيْحِهَا وَ ذَكَرَ الْمِسْكَ، قَالَ: وَ يَقُوْلُ أَهْلُ السَّمَاءِ: رُوْحٌ طَيِّبَةٌ جَاءَتْ مِنْ قِبَلِ الْأَرْضِ صَلَّى اللهُ عَلَيْكِ وَ عَلَى جَسَدٍ كُنْتِ تَعْمُرِيْنَهُ. فَيُنْطَلَقُ بِهِ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَ جَلَّ ثُمَّ يَقُوْلُ: انْطَلِقُوْا بِهِ إِلَى آخِرِ الْأَجَلِ. قَالَ: وَ إِنَّ الْكَافِرَ إِذَا خَرَجَتْ رُوْحُهُ، قَالَ حَمَّادٌ: وَ ذَكَرَ مِنْ نَتْنِهَا وَ ذَكَرَ لَعْنًا وَ يَقُوْلُ أَهْلُ السَّمَاءِ: رُوْحٌ خَبِيْثَةٌ جَاءَتْ مِنْ قِبَلِ الْأَرْضِ. قَالَ: فَيُقَالُ: انْطَلِقُوْا بِهِ إِلَى آخِرِ الْأَجَلِ. قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ: فَرَدَّ رَسُوْلُ اللهِ ص رَيْطَةً كَانَتْ عَلَيْهِ عَلَى أَنْفِهِ هَكَذَا. مسلم 4: 2202  

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Apabila ruh orang mukmin keluar, dua malaikat menjemputnya dan membawanya naik. (Hammad berkata : Abu Hurairah menyebutkan harum baunya seperti minyak wangi). Dan penghuni langit berkata, “Ini adalah ruh yang baik yang datang dari bumi. Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu dan kepada jasad yang engkau tempati”. Lalu ruh itu dibawa ke hadapan Tuhannya ‘Azza wa Jalla, lalu Dia berfirman, “Bawalah ia ke batas yang terakhir (Sidratul Muntaha)”. Dan apabila ruh orang kafir keluar, (Hammad berkata : Abu Hurairah menyebutkan busuknya bau ruh itu dan ia dilaknati). Kemudian penghuni langit berkata, “Ini adalah ruh yang jelek yang datang dari bumi”. Kemudian difirmankan, “Bawalah ia ke tempat terakhir (ke Sijjin)”. Abu Hurairah berkata, “Lalu Rasulullah SAW menutupkan kain tipis ke hidungnya demikian”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2202]  

6. Dibangkitkan pada hari kebangkitan.

Di dalam hal ini cukup dengan ayat Al-Qur’an saja. Firman Allah SWT :

وَ نُفِخَ فِي الصُّوْرِ فَإِذَا هُمْ مِّنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُوْنَ. قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا هٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَ صَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ. يس: 51-52

Dan ditiuplah sangkakala. Maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari quburnya (menuju) Tuhan mereka. Mereka berkata, “Aduhai celakalah kami, siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami ? Inilah yang dijanjikan Allah yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul-Nya”. [QS. Yaasiin : 51-52]

وَ اَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَا وَ اَنَّ اللهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ. الحج: 7

Dan sesungguhnya qiyamat itu pastilah datang, tidak ada keraguan padanya, dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan semua orang yang di dalam qubur. [QS. Al-Hajj : 7]

وَ قَالُوْٓا ءَاِذَا كُنَّا عِظَامًا وَّ رُفَاتًا ءَاِنَّا لَمَبْعُوْثُوْنَ خَلْقًا جَدِيْدًا. قُلْ كُوْنُوْا حِجَارَةً اَوْ حَدِيْدًا، اَوْ خَلْقًا مِّمَّا يَكْبُرُ فِيْ صُدُوْرِكُمْ، فَسَيَقُوْلُوْنَ مَنْ يُّعِيْدُنَا، قُلِ الَّذِيْ فَطَرَكُمْ اَوَّلَ مَرَّةٍ. الاسراء: 49-51

Mereka berkata, “Apakah apabila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluq yang baru ?”. Katakanlah, “Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluq dari makhluq yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu”. Maka mereka akan bertanya, “Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali ?”. Katakanlah, “Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama”. [QS. Al-Israa’ : 49-51]

Dan ada beberapa lagi ayat-ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang yang mati itu akan dibangkitkan dari quburnya untuk menerima balasan amal masing-masing, baik atau jahatnya. Walloohu a’lam

~oO[ @ ]Oo~

Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid | Brosur MTA Ahad, 31 Juli 2005/24 Jumadits Tsaniyah 1426

Assalamualaikum saudaraku muslimin dan muslimat di manapun anda berada, shalawat dan salam juga kami tujukan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Dalam halaman ini dapat anda dalil-dalil keutamaan shalat berjamaah di masjid yang kami kutib dari brosur Majelis Tafsir Alquran pimpinan Ustaz Drs. Ahmad Sukino (Alm.) edisi Ahad, 31 Juli 2005/24 Jumadits Tsaniyah 1426.


Pengertian shalat berjama'ah

Shalat berjama'ah ialah shalat yang dilakukan oleh orang banyak secara bersama, paling sedikit dua orang, salah seorang diantara mereka yang lebih fasih bacaannya dan lebih mengerti tentang hukum Islam (Al-Qur'an dan Hadits) dipilih menjadi imam, dan yang lain menjadi makmum. Shalat berjama'ah ini hukumnya sunnah muakkad.

Keutamaan shalat berjama'ah

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: صَلاَةُ  الرَّجُلِ فِى اْلجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلىَ صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَ فِى سُوْقِهِ خَمْسًا وَ عِشْرِيْنَ ضِعْفًا، وَ ذلِكَ اَنَّهُ اِذَا تَوَضَّأَ فَاَحْسَنَ اْلوُضُوْءَ ثُمَّ خَرَجَ اِلىَ اْلمَسْجِدِ لاَ يُخْرِجُهُ اِلاَّ الصَّلاَةُ  لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً اِلاَّ رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَ حُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ، فَاِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلِ اْلمَلاَئِكَةُ تُصَلّى عَلَيْهِ مَا دَامَ فِى مُصَلاَّهُ. اَللّهُمَّ صَلّ عَلَيْهِ، اَللّهُمَّ ارْحَمْهُ. وَ لاَ يَزَالُ اَحَدُكُمْ فِى صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ. البخارى
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Shalatnya seseorang dengan berjama'ah (di masjid) itu berlipat ganda (pahalanya) dengan dua puluh lima kali lipat dari pada shalatnya di rumah dan di pasar. Yang demikian itu karena apabila dia berwudlu dan memperbagus wudlunya, kemudian berangkat ke masjid yang mana tidak ada yang menggerakkannya untuk berangkat ke masjid itu kecuali (untuk) shalat, maka tidaklah dia melangkahkan kakinya satu langkah, kecuali dengannya diangkat satu derajat untuknya dan dihapuslah dengannya satu kesalahannya. Dan apabila dia telah shalat, para malaikat terus-menerus mendoakannya selama dia masih berada di tempat shalatnya (dan selama belum bathal wudlunya)”. Malaikat mengucapkan "Alloohumma shalli 'alaih, Alloohummar-hamhu" (Ya Allah, berilah berkah kepadanya, Ya Allah, berilah rahmat kepadanya). Dan senantiasa dia dianggap shalat selama dia menunggu (untuk) shalat". [HR. Bukhari juz 1, hal. 158].

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لاَ يَزَالُ اْلعَبْدُ فِى صَلاَةٍ مَا كَانَ فِى مُصَلاَّهُ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ، وَ تَقُوْلُ اْلمَلاَئِكَةُ: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اَللّهُمَّ ارْحَمْهُ حَتىَّ يَنْصَرِفَ اَوْ يُحْدِثَ. قُلْتُ: مَا يُحْدِثُ. قَالَ: يَفْسُوْ اَوْ يَضْرِطُ. مسلم
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Senantiasa seorang hamba terhitung shalat selama dia berada di tempat shalatnya untuk menunggu datangnya waktu shalat wajib. Dan malaikat mendoakan Alloohummaghfir lahu, Alloohummar hamhu. (Ya Allah berilah ampun kepadanya, ya Allah berilah rahmat kepadanya)”. Yang demikian itu hingga dia berpaling atau dia berhadats”. Aku (Abu Rafi’) bertanya, “Apa yang dimaksud berhadats itu ?”. (Abu Hurairah) menjawab, “Kentut yang tidak berbunyi, maupun yang berbunyi”. [HR. Muslim juz 1, hal. 459].

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: صَلاَةُ اْلجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ اْلفَذّ بِسَبْعٍ وَ عِشْرِيْنَ دَرَجَةً. البخارى
Dari ‘Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Shalat berjama'ah itu lebih utama dari pada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat". [HR. Bukhari juz 1, hal. 158]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: تَفْضُلُ صَلاَةُ اْلجَمِيْعِ صَلاَةَ اَحَدِكُمْ وَحْدَهُ بِخَمْسٍ وَ عِشْرِيْنَ جُزْأً وَ تَجْتَمِعُ مَلاَئِكَةُ اللَّيْلِ وَ مَلاَئِكَةُ النَّهَارِ فِى صَلاَةِ اْلفَجْرِ. ثُمَّ يَقُوْلُ اَبُوْ هُرَيْرَةَ: فَاقْرَءُوْا اِنْ شِئْتُمْ اِنَّ قُرْانَ اْلفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا. البخارى

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Shalat berjama’ah itu lebih utama dari pada shalat seseorang diantara kalian sendirian dengan dua puluh lima bagian, dan malaikat yang mengurusi malam berkumpul dengan malaikat yang mengurusi siang (menyaksikan) pada shalat Shubuh”. Kemudian Abu Hurairah berkata, ”Bacalah jika kamu mau, ayat Inna qur-aanal fajri kaana masyhuudaa(Sesungguhnya shalat shubuh itu disaksikan oleh para malaikat)” Al-Israa’ : 78. [HR. Bukhari juz 1, hal. 159]

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: مَنْ سَرَّهُ اَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ، فَاِنَّ اللهَ شَرَعَ  لِنَبِيّكُمْ ص سُنَنَ اْلهُدَى وَ اِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ اْلهُدَى، وَلَوْ اَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوْتِكُمْ كَمَا يُصَلّى هذَا اْلمُتَخَلّفُ فِى بَيْتِهِ، لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيّكُمْ، وَ لَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيّكُمْ لَضَلَلْتُمْ. وَ مَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُوْرَ، ثُمَّ يَعْمِدُ اِلىَ مَسْجِدٍ مِنْ هذِهِ اْلمَسَاجِدِ اِلاَّ  كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلّ خَطْوَةٍ يَخْطُوْهَا حَسَنَةً، وَ يَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً، وَ يَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيّئَةً، وَ لَقَدْ رَأَيْتُنَا، وَ مَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا اِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُوْمُ النّفَاقِ، وَ لَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفّ. مسلم
Dari ‘Abdullah (Ibnu Mas'ud), ia berkata : Barangsiapa yang senang untuk bertemu kepada Allah sebagai orang yang berserah diri besok (pada hari qiyamat), maka hendaklah dia menjaga shalat-shalatnya di mana dipanggil (diadzani) untuk shalat itu. Karena sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabi kalian SAW dengan sunnah-sunnah petunjuk. Dan sesungguhnya mendatangi shalat-shalat itu termasuk sunnah-sunnah petunjuk. Dan seandainya kalian shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang yang tidak mau datang ke masjid ini shalat di rumahnya, sungguh berarti kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, dan seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, sungguh kalian akan tersesat. Dan tidaklah seseorang bersuci (berwudlu) dan memperbaguskannya kemudian pergi ke satu masjid diantara masjid-masjid ini, kecuali Allah mencatat dengan setiap langkah kaki yang ia melangkah (ke masjid) itu dengan satu kebaikan baginya, dan dengannya Allah mengangkatnya satu derajat, dan dengannya pula Allah menghapuskan satu kesalahan. Dan sungguh saya telah melihat (keadaan) kita. Tidaklah enggan untuk mendatangi shalat (di masjid) kecuali orang munafiq yang telah diketahui kemunafiqannya, dan sungguh ada seorang laki-laki yang didatangkan (untuk shalat di masjid) dengan dibawa oleh dua orang di kiri-kanannya sehingga didirikan di dalam shaff". [HR. Muslim juz 1, hal. 453]

عَنْ اَبِى اْلاَحْوَصِ قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللهِ: لَقَدْ رَأَيْتُنَا، وَ مَا يَتَخَلَّفُ عَنِ الصَّلاَةِ اِلاَّ مُنَافِقٌ قَدْ عُلِمَ نِفَاقُهُ اَوْ مَرِيْضٌ. اِنْ كَانَ اْلمَرِيْضُ لَيَمْشِى بَيْنَ رَجُلَيْنِ حَتَّى يَأْتِيَ الصَّلاَةَ، وَ قَالَ: اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص عَلَّمَنَا سُنَنَ اْلهُدَى، وَاِنَّ مِنْ سُنَنِ اْلهُدَى الصَّلاَةَ فِى اْلمَسْجِدِ الَّذِيْ يُؤَذَّنُ فِيْهِ. مسلم
Dari Abul Ahwash, ia berkata : ‘Abdullah (Ibnu Mas’ud) berkata, "Sungguh saya telah melihat (keadaan) kita. Tidaklah enggan untuk mendatangi shalat (di masjid) kecuali orang munafiq yang telah diketahui kemunafiqannya atau orang yang sakit. Sesungguhnya orang yang sakit, ia (bisa) berjalan diantara dua orang sehingga datang (ke masjid) untuk shalat". Dan ia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita sunnah-sunnah petunjuk, dan sesungguhnya diantara sunnah-sunnah petunjuk itu ialah shalat di masjid yang diserukan adzan padanya". [HR. Muslim juz 1, hal. 453]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى اِلىَ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيْضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ اِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيْئَةً وَ اْلاُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً. مسلم
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa bersuci (berwudlu) di rumahnya, kemudian ia berjalan ke suatu masjid diantara masjid-masjid Allah untuk melaksanakan kewajiban diantara kewajiban-kewajibannya kepada Allah, maka setiap dua langkahnya adalah yang satu menghapus kesalahan, dan yang lain mengangkat derajat". [HR. Muslim juz 1, hal. 462]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوْءَهُ ثُمَّ رَاحَ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا، اَعْطَاهُ اللهُ جَلَّ وَ عَزَّ مِثْلَ اَجْرِ مَنْ صَلاَّهَا وَ حَضَرَهَا لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ اَجْرِهِمْ شَيـْئًا. ابو داود
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berwudlu dan memperbagus wudlunya, kemudian dia pergi (ke masjid), tiba-tiba dia mendapati orang-orang telah selesai shalat, maka Allah Jalla wa ‘Azza tetap memberinya pahala seperti pahalanya orang yang sudah shalat berjamaah itu, dan dia mendatanginya itu (pahalanya) tidak berkurang sedikitpun dari pahala mereka”. [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 155]

عَنْ اُبَيّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: صَلَّى بِنَا رَسُوْلُ اللهِ ص يَوْمًا الصُّبْحَ فَقَالَ: اَشَاهِدٌ فُلاَنٌ؟ قَالُوْا: لاَ. قَالَ: اَشَاهِدٌ فُلاَنٌ؟ قَالُوْا: لاَ. قَالَ: اِنَّ هَاتَيْنِ الصَّلاَتَيْنِ اَثْقَلُ الصَّلَوَاتِ عَلَى اْلمُنَافِقِيْنَ، وَ لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا فِيْهِمَا َلاَتَيْتُمُوْهُمَا، وَ لَوْ حَبْوًا عَلَى الرُّكَبِ، وَ اِنَّ الصَّفَّ اْلاَوَّلَ عَلَى مِثْلِ صَفّ اْلمَلاَئِكَةِ، وَ لَوْ عَلِمْتُمْ مَا فَضِيْلَتُهُ لاَبْتَدَرْتُمُوْهُ، وَ اِنَّ صَلاَةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ اَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ وَحْدَهُ، وَصَلاَتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ اَزْكَى مِنْ صَلاَتِهِ مَعَ الرَّجُلِ. وَ مَا كَثُرَ فَهُوَ اَحَبُّ اِلىَ اللهِ تَعَالَى. ابو داود
Dari Ubaiy bin Ka'ab, ia berkata : Pada suatu hari Rasulullah SAW mengimami kami shalat Shubuh. (Setelah selesai shalat), beliau bertanya kepada kami, "Apakah si fulan ada ?" Para shahabat menjawab, "Tidak ada !" Rasulullah SAW bertanya lagi. "Apakah si fulan ada ?". Para shahabat menjawab, "Tidak ada !". Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya dua shalat ini (‘Isyak dan Shubuh) adalah seberat-berat shalat bagi orang-orang munafiq. Dan seandainya kalian mengetahui kebaikan yang ada pada dua shalat ini (‘Isyak dan Shubuh), sungguh kalian akan mendatanginya walaupun merangkak dengan lutut. Dan sesungguhnya shaff yang pertama adalah seperti shaffnya malaikat, dan seandainya kalian mengetahui kelebihannya, sungguh kalian akan saling memperebutkannya. Dan sesungguhnya shalatnya seseorang berjamaah dengan satu orang itu lebih baik dan lebih bersih dari pada shalatnya sendirian, dan shalat berjama'ah dengan dua orang itu lebih baik dan lebih bersih dari pada shalat berjamaah dengan satu orang, dan setiap yang lebih banyak pesertanya maka itu lebih dicintai oleh Allah Ta’aalaa". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 152]

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص : مَنْ صَلَّى اْلعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ. وَ مَنْ صَلَّى اْلعِشَاءَ وَ اْلفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ. ابو داود
Dari 'Utsman bin ‘Affan, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang datang shalat 'Isyak berjama'ah, maka dia mendapatkan pahala (seperti) shalat setengah malam, dan barangsiapa yang shalat 'Isyak dan Shubuh berjama'ah, maka dia mendapatkan pahala seperti shalat satu malam penuh". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 152]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ اَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ اُخَالِفَ اِلىَ رِجَالٍ فَأُحَرّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوْتَهُمْ. وَ الَّذِيْ نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ يَعْلَمُ اَحَدُهُمْ اَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِيْنًا اَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ اْلعِشَاءَ. البخارى
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Demi Tuhan yang diriku di tangan-Nya, sungguh aku berkehendak memerintahkan (orang-orang mengumpulkan) kayu bakar, setelah terkumpul kemudian aku memerintahkan untuk adzan shalat, lalu aku menunjuk seorang untuk mengimami orang banyak, lalu aku pergi kepada orang-orang (yang tidak hadir dalam shalat berjamaah), kemudian aku bakar rumah-rumah mereka bersama yang ada di dalam. Dan demi Tuhan yang diriku di tangan-Nya, seandainya jika seseorang dari mereka mengetahui bahwa ia akan mendapat tulang yang berdaging gemuk atau daging pada dua rusuk yang baik, niscaya ia hadir pada shalat 'Isyak (berjamaah)". [HR. Bukhari juz 1, hal. 158]

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: اَتَى النَّبِيَّ ص رَجُلٌ اَعْمَى فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّهُ لَيْسَ لِى قَائِدٌ يَقُوْدُنِى اِلىَ اْلمَسْجِدِ. فَسَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ ص اَنْ يُرَخّصَ لَهُ فَيُصَلّى فِى بَيْتِهِ، فَرَخَّصَ لَهُ. فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ: هَلْ تَسْمَعُ النّدَاءَ بِالصَّلاَةِ؟ فَقَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَجِبْ. مسلم
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah datang kepada Nabi SAW seorang buta (Abdullah bin Umi Maktum) lalu ia berkata, "Ya Rasulullah ! Sesungguhnya saya tidak mempunyai penuntun yang menuntun saya ke masjid". Kemudian dia meminta kepada Rasulullah SAW supaya memberi kelonggaran baginya untuk shalat di rumah. Maka beliau memberi kelonggaran baginya. Tetapi setelah ia berpaling hendak pergi, beliau memanggilnya dan bertanya, "Apakah engkau mendengar adzan untuk shalat ?". Ia menjawab, "Ya". Beliau bersabda, "Bila demikian, hendaklah engkau datang". [HR. Muslim juz I : 452]

Alhmdulllahirabbil'alamin telah anda baca artikel tentang Keutamaan shalat berjamaah di masjid, yang kami kutip dari brosur Pengajian ahad pagi Majelis Tafsir Alquran edisi Ahad, 31 Juli 2005/24 Jumadits Tsaniyah 1426. sampai jupa pada brosur berikutya. [https://mtabrosur.blogspot.com/2011/03/050731-shalat-berjamaah-1.html]

Dalil Shahih Dzikir Sesudah Shalat | Brosur Jihad Pagi MTA Edisi Ahad, 03 Juli 2005/26 Jumadil ula 1426

Assalamualaikum Wr. Wb.. Berikut ini kami tuliskan secara lengkap isi brosur Pengajian Ahad Pagi Mjelis Tfsir Alquran yang memuat tentang dalil-dalil dzikir sesudah sahalat yang di lakuakn Rsulullah SAW. dan para shahabat beliau yang patut kita amalkan juga.

Dalil-Dalil Dzikir Sesudah Shalat

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا وَ قَالَ: اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ، وَ مِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ ذَا اْلجَلاَلِ وَ اْلاِكْرَامِ. قَالَ اْلوَلِيْدُ: فَقُلْتُ ِلـْلاَوْزَعِيّ: كَيْفَ اْلاِسْتِغْفَارُ؟ قَالَ: تَقُوْلُ اَسْتَغْفِرُ اللهَ، اَسْتَغْفِرُ اللهَ. مسلم
Dari Tsauban, dia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila selesai dari shalat, beliau memohon ampun (membaca istighfar) tiga kali. Lalu beliau membaca, “Alloohumma antas salaam, wa minkas salaam, tabaarokta dzal jalaali wal ikroom“. (Ya Allah, Engkau Maha Selamat, dan dari Engkaulah datangnya keselamatan. Engkau Maha Berkah, wahai Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Mulia). Al-Walid (perawi) berkata : Aku bertanya kepada Al-Auza’iy, “Bagaimana bacaan istighfar itu ?”. Al-Auza’iy menjawab, “Astaghfirullooh, astaghfirullooh”. (Aku mohon ampun kepada Allah, aku mohon ampunan kepada Allah). [HR. Muslim juz 1, ha. 414]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا سَلَّمَ لَمْ يَقْعُدْ اِلاَّ مِقْدَارَ مَا يَقُوْلُ: اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَ مِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا اْلجَلاَلِ وَ اْلاِكْرَامِ. و فى رواية ابن نمير: يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَ اْلاِكْرَامِ. مسلم
Dari ‘Aisyah, dia berkata, “Dahulu Nabi SAW apabila selesai salam, beliau tidak duduk kecuali sekedar membaca, “Alloohumma antas salaam, wa minkas salaam, tabaarokta dzal jalaali wal ikroom”. (Ya Allah, Engkau Maha Selamat, dan dari Engkaulah datangnya keselamatan. Engkau Maha Berkah, wahai Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Mulia). Dan dalam riwayat Ibnu Numair Yaa dzal jalaali wal ikroom. [HR. Muslim juz 1, hal. 414]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص: مَنْ سَبَّحَ اللهَ فِى دُبُرِ كُلّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ وَ حَمِدَ اللهَ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ وَ كَبَّرَ اللهَ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَ تِسْعُوْنَ. وَ قَالَ تَمَامَ اْلمِائَةِ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ، وَ لَهُ اْلحَمْدُ، وَ هُوَ عَلَى كُلّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَاِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ اْلبَحْرِ. مسلم
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa yang setiap habis shalat membaca tasbih sebanyak tiga puluh tiga kali, tahmid sebanyak tiga puluh tiga kali, takbir sebanyak tiga puluh tiga kali, yang demikian itu berarti sembilan puluh sembilan kali”. Nabi SAW bersabda, “Dan genap seratusnya ia mengucap, Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir. (Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia atas segala sesuatu berkuasa), maka akan diampuni dosa-dosanya sekalipun sebanyak buih di laut”. [HR. Muslim juz 1, hal. 418]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: جَاءَ اْلفُقَرَاءُ اِلىَ النَّبِيّ ص فَقَالُوْا: ذَهَبَ اَهْلُ الدُّثُوْرِ مِنَ اْلاَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ اْلعُلاَ وَ النَّعِيْمِ اْلمُقِيْمِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلّى وَ يَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ وَ لَهُمْ فَضْلُ اَمْوَالٍ يَحُجُّوْنَ بِهَا وَ يَعْتَمِرُوْنَ وَ يُجَاهِدُوْنَ وَ يَتَصَدَّقُوْنَ. قَالَ: اَلاَ اُحَدّثُكُمْ بِمَا اِنْ اَخَذْتُمْ اَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ وَ لَمْ يُدْرِكْكُمْ اَحَدٌ بَعْدَكُمْ وَ كُنْتُمْ خَيْرَ مَنْ اَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ اِلاَّ مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ تُسَبّحُوْنَ وَ تَحْمَدُوْنَ وَ تُكَبّرُوْنَ خَلْفَ كُلّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ. فَاخْتَلَفْنَا بَيْنَنَا. فَقَالَ بَعْضُنَا: نُسَبّحُ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ وَ نَحْمَدُ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ وَ نُكَبّرُ اَرْبَعًا وَ ثَلاَثِيْنَ فَرَجَعْتُ اِلَيْهِ فَقَالَ: تَقُوْلُ سُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ ِللهِ وَ اللهُ اَكْبَرُ حَتىَّ يَكُوْنَ مِنْهُنَّ كُلّهِنَّ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ. البخارى
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Orang-orang faqir datang kepada Nabi SAW lalu berkata, Orang-orang kaya dan berharta bisa mendapatkan derajat yang tinggi dan kenimatan yang kekal. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, mereka mempunyai kelebihan harta sehingga bisa berhajji, berumrah, berjihad dan bersedeqah. Nabi SAW bersabda, Maukah aku beritahukan kepada kalian dengan sesuatu yang apabila kalian lakukan, kalian akan mendapatkan apa yang didapatkan orang-orang yang mendahului kalian (dalam beramal) dan tidak seorangpun sesudah kalian yang menyusul kalian (beramal), dan kalian menjadi sebaik-baik orang diantara kalian, kecuali orang yang mengamalkan seperti itu juga. Yaitu kamu bertasbih, bertahmid, dan bertakbir setiap selesai shalat sebanyak tiga puluh tiga kali. Lalu diantara kami ada perbedaan pendapat. Sebagian ada yang berpendapat bertsbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, dan bertakbir tiga puluh empat kali. Lalu aku (tanyakan) kembali kepada beliau, maka beliau bersabda, Bacalah Subhaanallooh, wal hamdu lillaah, walloohu akbar. Sehingga masing-masingnya itu dibaca tiga puluh tiga kali. [HR. Bukhari juz 1, hal. 205]

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: مُعَقّبَاتٌ لاَ يَخِيْبُ قَائِلُهُنَّ اَوْ فَاعِلُهُنَّ دُبُرَ كُلّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ، ثَلاَثٌ وَ ثَلاَثُوْنَ تَسْبِيْحَةً وَ ثَلاَثٌ وَ ثَلاَثُوْنَ تَحْمِيْدَةً وَ اَرْبَعٌ وَ ثَلاَثُوْنَ تَكْبِيْرَةً. مسلم
Dari Ka’ab bin ‘Ujrah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Beberapa bacaan yang dibaca setiap habis shalat fardlu yang tidak akan membuat rugi bagi orang yang membacanya  (mengerjakannya) ialah tiga puluh tiga kali tasbih, tiga puluh tiga kali tahmid, dan tiga puluh empat kali takbir”. [HR. Muslim juz 1, hal. 418]

كَتَبَ مُعَاوِيَةُ اِلَى اْلمُغِيْرَةِ: اُكْتُبْ اِلَيَّ بِشَيْءٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ ص. قَالَ: فَكَتَبَ اِلَيْهِ. سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ اِذَا قَضَى الصَّلاَةَ: لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ وَ لَهُ اْلحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. اَللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا اَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفُعَ ذَا اْلجَدّ مِنْكَ اْلجَدُّ. مسلم
Mu’awiyah berkirim surat kepada Mughirah yang isinya, “Tuliskanlah untukku sesuatu yang kamu dengar dari Rasulullah SAW”. (Rawi) berkata : Mughirah pun berkirim surat kepada Mu’awiyah yang isinya, “Aku mendengar Rasulullah SAW setiap kali selesai shalat, beliau berdoa Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir. Alloohumma laa maani’a limaa a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu. (Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia atas segala sesuatu berkuasa. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi terhadap apa yang Engkau beri, dan tidak ada yang dapat memberi terhadap apa yang Engkau halangi, dan tidak bermanfaat (kekayaan itu) terhadap orang yang kaya, dari-Mu lah kekayaan itu”. [HR. Muslim juz 1, hal. 415]

عَنْ اَبِى الزُّبَيْرِ قَالَ: كَانَ ابْنُ الزُّبَيْرِ يَقُوْلُ فِى دُبُرِ كُلّ صَلاَةٍ حِيْنَ يُسَلّمُ: لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمُلْكُ وَ لَهُ اْلحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ. لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ. وَ لاَ نَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاهُ، لَهُ النّعْمَةُ وَ لَهُ اْلفَضْلُ وَ لَهُ الثَّنَاءُ اْلحَسَنُ. لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدّيْنَ وَ لَوْ كَرِهَ اْلكَافِرُوْنَ. وَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُهَلّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلّ صَلاَةٍ. مسلم
Dari Abu Zubair, ia berkata : Adalah Ibnu Zubair membaca pada setiap sesudah shalat, yaitu sesudah salam, Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa alaa kulli syai-in qodiir. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Laa ilaaha illallooh. Wa laa nabudu illaa iyyaah, lahun nimatu wa lahul fadllu wa lahuts tsanaa-ul hasan. Laa ilaaha illalloohu mukhlishiina lahud diina walau karihal kaafiruun (Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan bagi-Nya segala puji, dan Dia atas segala sesuatu berkuasa. Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dari Allah. Tidak ada Tuhan selain Allah. Dan kami tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya. Bagi-Nya segala kenimatan, bagi-Nya segala keutamaan, dan bagi-Nya segala sanjungan yang baik. Tidak ada Tuhan selain Allah, kami menjalankan agama ini setulusnya kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir membencinya. Dan ia berkata, Adalah Rasulullah SAW dahulu mengucapkan demikian setiap sesudah shalat. [HR. Muslim juz 1, hal. 415].

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: خَصْلَتَانِ اَوْ خَلَّتَانِ لاَ يُحَافِظُ عَلَيْهِمَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ اِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ، هُمَا يَسِيْرٌ وَ مَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيْلٌ: يُسَبّحُ فِى دُبُرِ كُلّ صَلاَةٍ عَشْرًا وَ يَحْمَدُ عَشْرًا وَ يُكَبّرُ عَشْرًا، فَذلِكَ خَمْسُوْنَ وَ مِائَةٌ بِاللّسَانِ وَ اَلْفٌ وَ خَمْسُمِائَةٍ فِى الْمِيْزَانِ. وَ يُكَبّرُ اَرْبَعًا وَ ثَلاَثِيْنَ اِذَا اَخَذَ مَضْجَعَهُ وَ يَحْمَدُ ثَلاَثًا  وَ ثَلاَثِيْنَ وَ يُسَبّحُ ثَلاَثًا وَ ثَلاَثِيْنَ، فَذلِكَ مِائَةٌ بِاللّسَانِ وَ اَلْفٌ فِى اْلمِيْزَانِ، فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَعْقِدُهَا بِيَدِهِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ هُمَا يَسِيْرٌ وَ مَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيْلٌ؟ قَالَ: يَأْتِى اَحَدَكُمْ يَعْنِى الشَّيْطَانُ فِى مَنَامِهِ فَيُنَوّمُهُ قَبْلَ اَنْ يَقُوْلَهُ، وَ يَأْتِيْهِ فِى صَلاَتِهِ، فَيُذَكّرُهُ حَاجَةً قَبْلَ اَنْ يَقُوْلَهَا. ابو داود
Dari Abdullah bin ‘Umar RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Ada dua perkara, tidaklah seorang muslim menjaga atas keduanya kecuali dia masuk surga. Dua perkara itu mudah, tetapi orang yang mengamalkannya sedikit, yaitu setiap sehabis shalat (fardlu) bertasbih kepada Allah Ta’ala sepuluh kali, membaca tahmid sepuluh kali dan membaca takbir sepuluh kali. Maka yang demikian itu adalah seratus lima puluh di lisan, dan seribu lima ratus pada timbangan amal. Dan apabila akan tidur membaca takbir tiga puluh empat kali, membaca tahmid tiga puluh tiga kali dan membaca tasbih tiga puluh tiga kali. Maka yang demikian itu adalah seratus di lisan, dan seribu pada timbangan amal”. Berkata (Abdullah bin ‘Umar), “Sesung-guhnya saya melihat Rasulullah SAW menghitungnya dengan tangannya”. Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana keduanya itu mudah sedang orang yang mengamalkannya sedikit ?”. Rasulullah SAW menjawab, “Datang kepada seseorang diantara kalian (yaitu syaithan) pada tempat tidurnya lalu ia menidurkannya sebelum orang itu sempat membacanya, dan (syaithan) datang kepadanya di dalam shalatnya, lalu mengingatkan orang itu pada kebutuhannya sebelum orang itu sempat membacanya”. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 316].

Keterangan :
Sehabis shalat membaca tasbih sepuluh kali, membaca tahmid sepuluh kali dan membaca takbir sepuluh kali. Maka dalam setiap shalat wajib membaca sebanyak tiga puluh kali, sedangkan sehari semalam shalat wajib itu lima kali. Jadi semuanya ada seratus lima puluh kali (seratus lima puluh di lisan).
Dan satu kebaikan itu pahalanya sepuluh. Jadi seratus lima puluh di lisan sama dengan seribu lima ratus pada timbangan amal.

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادِ اْلاَلْهَانِيّ قَالَ سَمِعْتُ اَبَا اُمَامَةَ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ قَرَأَ آيَةَ اْلكُرْسِيّ دُبُرَ كُلّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ اْلجَنَّةِ اِلاَّ اْلمَوْتُ. الطبرانى، فى المعجم الكبير
Dari Muhammad bin Ziyad Al-Alhaniy, ia berkata : Saya mendengar Abu Umamah mengatakan : Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa membaca ayat Kursi pada setiap sesudah shalat wajib, maka tidak ada yang menghalanginya untuk masuk surga kecuali mati. [HR. Thabrani dalam Al-Mujamul Kabiir juz 8, hal. 114, no. 7532]

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص اَخَذَ بِيَدِهِ وَ قَالَ: يَا مُعَاذُ، وَ اللهِ اِنّى َلاُحِبُّكَ (وَ اللهِ اِنّى َلاُحِبُّكَ) فَقَالَ: اُوْصِيْكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلّ صَلاَةٍ تَقُوْلُ: اَللّهُمَّ اَعِنّى عَلَى ذِكْرِكَ وَ شُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ. ابو داود
Dari Muadz bin Jabal, bahwasanya Rasulullah SAW memegang tangannya, lalu bersabda, Hai Muadz, demi Allah aku menyukaimu, demi Allah aku menyukaimu. Kemudian beliau bersabda, Aku washiyatkan kepadamu, ya Muadz, janganlah kamu tinggalkan pada setiap selesai shalat kamu berdoa, Alloohumma ainnii alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatik (Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadahku kepada-Mu). [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 86, no. 1522]

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: اَمَرَنِى رَسُوْلُ اللهِ ص اَنْ اَقْرَأَ بِاْلمُعَوّذَتَيْنِ فِى دُبُرِ كُلّ صَلاَةٍ. الترمذى
Dari Uqbah bin Amir, ia berkata, Rasulullah SAW menyuruh supaya aku membaca surat muawwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) pada setiap selesai shalat. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 244, no. 3067]

Brosur MTA Bab Shalat | Lafaz Tasyahhud & Shalawat, Doa Tahiyat Akhir & Salam (Brosur ke 17)

Assalamualaikum.. Dalam halaman ini dapat anda baca riwayat atau dalil-dalil tentang shalat diantaranya Bacaan/Lafaz Tasyahhud, Shalawat, Doa Tahiyat Akhir & Salam . Ini kutipan brosur Ahad, 12 Juni 2005/05 Jumadil ula 1426 semua ada dalilnya. Silakan baca dan pelajari dengan hati hati. Karena pentingnya sholat ini, sehingga Rasulullah bersabda "Kamaroaitumunni Usholli" shalatlah kalian sebagaimana cara aku shalat. Kanapa saya berpesan ini? karena banyak saudara kita dalam beragama mengikuti buku pelajaran di sekolah, tanpa tahu dalilnya pelaksanaanya.
050612 Shalat (17)

Bacaan tasyahhud

Di dalam duduk at-tahiyyat, kita membaca tasyahhud.

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: عَلَّمَنِى رَسُوْلُ اللهِ ص اَلتَّشَهُّدَ كَفّى بَيْنَ كَفَّيْهِ كَمَا يُعَلّمُنِى السُّوْرَةَ مِنَ الْقُرْآنِ: اَلتَّحِيَّاتُ للهِ وَ الصَّلَوَاتُ وَ الطَّيّبَاتُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَاالنَّبِىُّ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. الجماعة، نيل الاوطار
Dari Ibnu Mas'ud, ia berkata, "Rasulullah SAW mengajarkan tasyahhud kepada saya dengan kedua tangan beliau memegang tapak tanganku sebagaimana beliau mengajarkan surat Al-Qur'an kepadaku, beliau membaca Attahiyyaatu lillaah washsholawaatu wath-thoyyibaat. Assalaamu 'alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatulloohi wa barokaatuh assalaamu'alainaa wa 'alaa 'ibaadillaahish-shoolihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallooh wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rosuuluh (Segala kehormatan kepunyaan Allah, begitu pula segala ibadah dan segala yang baik-baik. Mudah-mudahan keselamatan dilimpahkan kepadamu wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan berkah-Nya. Mudah-mudahan keselamatan dilimpahkan kepada kami dan kepada hamba Allah yang shalih-shalih. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan (yang sebenarnya) melainkan Allah dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya)". [HR. Jama'ah, Nailul Authar juz 2, hal. 310]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُعَلّمُنَا التَّشَهُّدَ كَمَا يُعَلّمُنَا السُوْرَةَ مِنَ اْلقُرْآنِ، فَكَانَ يَقُوْلُ: اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيّبَاتُ للهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِىُّ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَ عَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. مسلم و ابو داود فى نيل الاوطار
Dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Adalah Rasulullah SAW mengajarkan tasyahhud kepada kami sebagaimana beliau mengajarkan surat Al-Qur'an kepada kami. Dan adalah beliau membaca Attahiyyaatul mubaarokaa-tush-sholawaatuth-thoyyibaatu lillaah As-salaamu 'alaika ayyuhannabiyyu wa rohmatulloohi wa barokaatuh. As-salaamu 'alainaa wa 'alaa 'ibaadillaahish-shoolihin Asyhadu allaa ilaaha illallooh wa asyhadu anna muhammadar rasuulullooh (Segala kehormatan, segala berkah, segala 'ibadah dan segala yang baik-baik itu kepunyaan Allah. Mudah-mudahan keselamatan dilimpahkan kepada-mu wahai Nabi, dan begitu pula rahmat Allah dan berkah-Nya. Mudah-mudahan keselamatan dilimpahkan kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang shalih-shalih. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan (yang sebenarnya) melainkan Allah dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad itu utusan Allah)". [HR. Muslim dan Abu Dawud, Nailul Authar juz 2, hal. 313]
Di samping itu masih ada lagi lafadh-lafadh bacaan tasyahhud yang lain yang tidak disebutkan disini.

Bacaan Shalawat.

Mengenai bacaan shalawat diantaranya sebagai berikut :
عَنْ اَبِى مَسْعُوْدٍ اْلاَنْصَارِىّ قَالَ: اَتَانَا رَسُوْلُ اللهِ ص وَ نَحْنُ فِى مَجْلِسِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ، فَقَالَ لَهُ بَشِيْرُ بْنُ سَعْدٍ: اَمَرَنَا اللهُ تَعَالَى اَنْ نُصَلّيَ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَكَيْفَ نُصَلّى عَلَيْكَ؟ قَالَ: فَسَكَتَ رَسُوْلُ اللهِ ص حَتَّى تَمَنَّيْنَا اَنَّهُ لَمْ يَسْأَلْهُ، ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: قُوْلُوْا: اَللّهُمَّ صَلّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ اِبْرَاهِيْمَ. وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ اِبْرَاهِيْمَ، فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَ السَّلاَمُ كَمَا قَدْ عَلِمْتُمْ. مسلم
Dari Abu Mas’ud Al-Anshari, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah datang kepada kami, yang pada waktu itu kami berada di majlisnya Sa’ad bin ‘Ubadah”. Lalu Basyir bin Sa’ad bertanya kepada beliau, “Ya Rasulullah, Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kami supaya membaca shalawat kepadamu, lalu bagaimana caranya kami membaca shalawat kepadamu ?”. (Abu Mas’ud) berkata, “Maka Rasulullah SAW diam, sehingga kami menginginkan sekiranya dia tidak menanyakannya”. Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Ucapkanlah Alloohumma sholli ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad, kamaa shollaita‘alaa aali ibroohiim, wa baarik ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa aali ibroohiim. Fil ‘aalamiina innaka hamiidum-majiid. (Ya Allah, berilah shalawat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada keluarga Nabi Ibrahim. Dan berilah berkah kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada keluarga Nabi Ibrahim. Di dalam semesta alam ini, sesungguhnya Engkau lah yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia)”, sedangkan (bacaan) salam sebagaimana yang telah kalian ketahui. [HR. Muslim 1 : 305].

عَنِ الْحَكَمِ قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ اَبِى لَيْلَى قَالَ: لَقِيَنِى كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ فَقَالَ: اَلاَ اُهْدِى لَكَ هَدِيَّةً؟ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ ص فَقُلْنَا: قَدْ عَرَفْنَا كَيْفَ نُسَلّمُ عَلَيْكَ. فَكَيْفَ نُصَلّى عَلَيْكَ؟ قَالَ: قُوْلُوْا: اَللّهُمَّ صَلّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ اِبْرَاهِيْمَ، اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ اِبْرَاهِيْمَ، اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. مسلم
Dari Hakam, ia berkata : Saya mendengar Ibnu Abu Laila mengatakan : Ka’ab bin ‘Ujrah pernah bertemu saya, lalu ia berkata, “Maukah kamu saya beri hadiah ? Rasulullah SAW pernah datang kepada kami”. Lalu kami berkata, “(Ya Rasulullah), kami telah mengetahui bagaimana mengucapkan salam kepadamu. Lalu bagaimana caranya kami mengucapkan shalawat kepadamu ?”. Beliau SAW menjawab, “UcapkanlahAlloohumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa aali Ibroohiim, innaka hamiidum majid. Alloohumma baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiim, innaka hamiidum majiid”. (Ya Allah, berilah shalawat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah berilah berkah kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia)”. [HR. Muslim 1 : 305].
Di samping itu masih ada lafadh-lafadh shalawat yang lain yang tidak disebutkan disini.

Duduk at-tahiyyat akhir

Duduk at-tahiyyat akhir yaitu duduk dengan meletakkan pantat pada tempat duduknya dengan memasukkan kaki kiri di bawah kaki kanan yang ditegakkan pada ujung jari-jarinya, lalu tangan kanan diatas paha kanan dengan menggenggam jari-jarinya, kecuali jari telunjuk yang dikeluarkan menunjuk ke qiblat sebagai isyarat dan jari tengah bertemu dengan ibu jari. Adapun tangan kiri diletakkan diatas paha kiri dan ujung jari-jarinya menyentuh lutut. Dan duduk beginilah yang biasa disebut dengan duduk tawarruk.
عَنْ اَبِى حُمَيْدٍ اَنَّهُ قَالَ وَ هُوَ فِى نَفَرٍ مِنْ اَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ ص: كُنْتُ اَحْفَظَكُمْ لِصَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ ص رَأَيْتُهُ اِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ…، فَاِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَةِ اْلاَخِيْرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَ نَصَبَ اْلاُخْرَى وَ قَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ. البخارى فى نيل الاوطار
Dari Abu Humaid, dan pada waktu itu dia berada dalam satu rombongan dari shahabat-shahabat Rasulullah SAW, ia berkata, “Saya adalah yang paling hafal shalatnya Rasulullah SAW diantara kamu sekalian, saya melihat Nabi SAW apabila bertakbir menjadikan kedua tangannya sejajar dengan dua bahunya, … Dan apabila duduk pada raka’at yang akhir (duduk at-tahiyyat akhir) beliau menjulurkan kakinya yang kiri dan menegakkan yang lain (kakinya yang kanan) dan beliau duduk pada tempat duduk beliau”. [HR. Bukhari, Nailul Authar 2 : 306].

Membaca doa

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا فَرَغَ اَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ اْلاَخِيْرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ اَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَ الْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرّ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ. الجماعة الا البخارى و الترمذى فى نيل الاوطار
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda, “Apabila salah seorang diantara kalian selesai membaca tasyahhud akhir, maka hendaklah mohon perlindungan kepada Allah dari empat hal : Yaitu dari siksa jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati dan dari kejahatan masiihid dajjaal (perusak yang menghabiskan kebaikan)”. [HR. Jama’ah, kecuali Bukhari dan Tirmidzi, Nailul Authar 2 : 326].

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَدْعُوْ: اَللّهُمَّ اِنّى اَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَ الْمَمَاتِ، وَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ. البخارى
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW berdo’a (di dalam shalatnya) Alloohumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabil qobri wa min ‘adzaabin naar, wa min fitnatil mahyaa wal mamaat, wa min fitnatil masiihid dajjaal. (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa qubur, dari siksa neraka, dari fitnah hidup dan mati dan dari fitnah masiihid dajjaal (perusak yang menghabiskan kebaikan)”. [HR. Bukhari 2 : 103].

عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ اَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيّ ص اَخْبَرَتْهُ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يَدْعُوْ فِى الصَّلاَةِ: اَللّهُمَّ اِنّى اَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، وَ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَ الْمَمَاتِ، اللّهُمَّ اِنّى اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَ المَغْرَمِ. قَالَتْ: فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ: مَا اَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيْذُ مِنَ الْمَغْرَمِ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ: اِنَّ الرَّجُلَ اِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَ وَعَدَ فَاَخْلَفَ. مسلم
Dari ‘Urwah bin Zubair, bahwasanya ‘Aisyah istri Nabi SAW mengkhabarkan kepadanya, “Adalah Nabi SAW biasa berdo’a di dalam shalat Alloohummaa innii a’uudzu bika min ‘adzaabil qobri wa a’uudzu bika min fitnatil masiihid dajjaal. Wa a’uudzu bika min fitnatil mahyaa wal mamaat. Alloohumma innii a’uudzu bika minal ma’tsami wal maghromi. (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa qubur, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Masiihid Dajjaal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah hidup dan mati. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan hutang)”. ‘Aisyah berkata : Lalu ada seorang yang bertanya kepada beliau, “Alangkah banyaknya engkau mohon perlindungan dari hutang, ya Rasulullah !”. Rasulullah SAW menjawab, “Sesungguhnya orang itu apabila berhutang (bisa menyebabkan) dia berbicara lalu berdusta dan berjanji lalu menyelisihi”. [HR. Muslim 1 : 412].

Di samping itu masih ada lagi lafadh doa yang lain yang tidak disebutkan di sini.
Keterangan :
Di dalam duduk at-tahiyyat akhir, kita membaca bacaan tasyahhud, shalawat dan doa, setelah itu mengucapkan salam, dengan demikian shalat itu telah selesai.

Salam

Setelah selesai berdo’a, kita akhiri ‘ibadah shalat kita dengan mengucap Salam dua kali. Yakni memalingkan kepala ke sebelah kanan lebih dahulu sehingga wajah memandang lurus ke sebelah kanan sambil mengucap salam “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullooh”.
Kemudian memalingkan kepala ke kiri sehingga wajah lurus memandang ke sebelah kiri dengan mengucap salam seperti tersebut di atas.

قَالَتْ عَائِشَةُ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيْرِ … وَ كَانَ يَخْتِمُ الصَّلاَةَ بِالتَّسْلِيْمِ. مسلم
Telah berkata ‘Aisyah, “Adalah Rasulullah SAW memulai shalat dengan takbir … dan adalah beliau menyudahi shalat dengan salam”. [HR. Muslim, juz 1, hal. 357].

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يُسَلّمُ عَنْ يَمِيْنِهِ وَ عَنْ يَسَارِهِ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ، حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدّهِ. الخمسة و صححه الترمذى، فى نيل الاوطار
Dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Nabi SAW mengucap salam ke arah kanannya, dan ke arah kirinya : Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullooh. Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullooh. (Mudah-mudahan Allah mencurahkan keselamatan atas kalian dan begitu pula rahmat-Nya. Mudah-mudahan Allah mencurahkan keselamatan atas kalian dan begitu pula rahmat-Nya) sehingga kelihatan putih pipinya”. [HR. Al-Khamsah, dan dishahihkan oleh Tirmidzi, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 332].

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلِ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيّ ص فَكَانَ يُسَلّمُ عَنْ يَمِيْنِهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ. وَ عَنْ شِمَالِهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ. ابو داود
Dari ‘Alqamah bin Waail dari bapaknya, ia berkata, “Saya shalat bersama Nabi SAW, maka beliau memberi salam ke sebelah kanan dengan mengucap Assalaamu ‘alaikum wa rohmatulloohi wa barokaatuh(Mudah-mudahan Allah mencurahkan keselamatan atas kalian dan begitu pula rahmat dan berkah-Nya), dan ke sebelah kiri dengan mengucapkan Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullooh. (Mudah-mudahan Allah mencurahkan keselamatan atas kalian dan begitu pula rahmat-Nya)”. [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 262].

Brosur MTA Bab Shalat | Dalil dan Riwayat Bacaan Duduk Antara 2 Sujud, Posisi Duduk Tahiyat Awwal & Jari Telunjuk (Brosur 16)

Assalamualaikum.. Dalam halaman ini dapat anda baca riwayat atau dalil-dalil tentang shalat diantaranya bacaan ketika duduk diantara 2 sujud (iftiroz), Bangkit ke Rakaat ke dua, memulai rakaat ke dua degan alfatihah, Duduk at-tahiyyat awwal dan dalil isyarah dengan telunjuk. Ini kutipan brosur Ahad, 22 Mei 2005/13 Rabiuts Tsani 1426  semua ada dalilnya. Silakan baca dan pelajari dengan hati hati. Karena pentingnya sholat ini, sehingga Rasulullah bersabda "Kamaroaitumunni Usholli" shalatlah kalian sebagaimana cara aku shalat. Kanapa saya berpesan ini? karena banyak saudara kita dalam beragama mengikuti buku pelajaran di sekolah, tanpa tahu dalilnya pelaksanaanya.

Bacaan Ketika Duduk Antara 2 Sujud

Ketika duduk antara dua sujud kita membaca salah satu do'a sebagai berikut :

عَنْ حُذَ يْفَةَ اَنَّ النَّبِىَّ ص كَانَ يَقُوْلُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ رَبّ اغْفِرْلِى رَبّ اغْفِرْلِى. ابن ماجه

Dari Hudzaifah, ia bekata, "Bahwasanya Nabi SAW membaca diantara dua sujudnya Robbigh firlii - Robbigh firlii (Ya Tuhanku ampunilah diriku, Ya Tuhanku ampunilah diriku)". [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 289 no. 897].

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ النَّبِىَّ ص كَانَ يَقُوْلُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ اَللّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى وَاجْبُرْنِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِى. الترمذى

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, Sesungguhnya Nabi SAW membaca diantara dua sujud Alloohummaghfirlii warhamnii wajburnii wahdinii war zuqnii (Ya Allah ampunilah daku, kasihanilah daku, cukupilah daku, tunjukilah diriku dan berilah rezqi kepadaku)". [HR. Tirmidzi juz 1, hal. 175]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ النَّبِىَّ ص كَانَ يَقُوْلُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ اَللّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى وَعَافِنِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِى. ابو داود

Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata, "Sesungguhnya Nabi SAW membaca (pada duduk) diantara dua sujud Alloohummaghfirlii warhamnii wa'aafinii wahdinii warzuqnii (Ya Allah, ampunilah daku, kasihanilah daku, berilah 'afiat kepadaku, tunjukilah daku dan berilah rizqi kepadaku". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 224]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قاَلَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَقُوْلُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ فِى صَلاَةِ اللَّيْلِ رَبّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَ اجْبُرْنِى وَارْزُقْنِى وَ ارْفَعْنِى. ابن حاجه

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW membaca diantara dua sujud dalam shalat malam Robbighfirlii warhamnii wajburnii warzuqnii warfa’nii (Ya Tuhanku ampunilah daku, kasihanilah daku, cukupilah daku, berilah rezqi kepadaku dan angkatlah derajatku)". [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 290, no. 898]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ فِى صَلاَةِ اللَّيْلِ رَبّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَ ارْفَعْنِى وَارْزُقْنِى وَاهْدِنِى ثُمَّ سَجَدَ. احمد

Dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya Rasulullah SAW membaca diantara dua sujud dalam shalat malam Robbighfirlii warhamnii warfa’nii warzuqnii wahdinii (Ya Tuhanku ampunilah daku, kasihanilah daku, angkatlah derajatku, berilah rezqi kepadaku dan tunjukilah daku)", kemudian beliau bersujud. [HR. Ahmad juz 1, hal. 315]


Sujud yang kedua dan wajib thuma’ninah pada setiap sujud, rukuk dan bangkit dari keduanya

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص دَخَلَ الْمَسْجِدَ، فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىّ ص، فَقَالَ: اِرْجِعْ فَصَلّ فَاِنَّكَ لَمْ تُصَلّ، فَرَجَعَ فَصَلَّى كَمَا صَلَّى، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىّ ص، فَقَالَ: اِرْجِعْ فَصَلّ فَاِنَّكَ لمَْ تُصَلّ، فَرَجَعَ فَصَلَّى كَمَا صَلَّى، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىّ ص فَقَالَ : اِرْجِعْ فَصَلّ فَاِنَّكَ لَمْ تُصَلّ ثَلاَثًا، فَقَالَ: وَ الَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقّ مَا اُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلّمْنِى، فَقَالَ: اِذَا قُمْتَ اِلَى الصَّلاَةِ فَكَبّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذلِكَ فِى الصَّلاَةِ كُلّهَا. احمد و البخارى و مسلم، فى نيل الاوطار، لكن ليس لمسلم فيه ذكر السجدة الثانية

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW masuk masjid. Kemudian ada seorang laki-laki masuk masjid lalu shalat. Setelah shalat, orang laki-laki itu datang kepada Nabi SAW dan memberi salam”. Lalu Nabi SAW bersabda, "Kembalilah dan shalatlah karena kamu belum shalat". Lalu orang laki-laki itu kembali dan shalat sebagaimana dia shalat tadi. Kemudian orang itu datang kepada Nabi SAW dan memberi salam. Lalu Nabi SAW bersabda, "Kembalilah dan shalatlah, karena kamu belum shalat". Lalu orang laki-laki itu kembali dan shalat sebagaimana dia shalat tadi. Kemudian orang itu datang kepada Nabi SAW dan memberi salam. Lalu Nabi SAW bersabda, "Kembalilah dan shalatlah, karena kamu belum shalat". Demikianlah sampai tiga kali, lalu orang laki-laki itu berkata, "Demi Allah yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, saya tidak bisa shalat yang lebih baik selain itu. Maka ajarilah saya (wahai Rasulullah) !". Maka Nabi SAW bersabda, "Apabila kamu berdiri shalat, bertakbirlah, kemudian bacalah apa yang mudah yang ada padamu dari Al-Qur'an, kemudian ruku'lah hingga thuma'ninah di dalam ruku' itu, kemudian bangkitlah dari ruku' hingga berdiri tegak, kemudian sujudlah hingga thuma'ninah di dalam sujud itu, kemudian angkatlah kepala dari sujud hingga thuma'ninah dalam duduk (antara dua sujud), kemudian sujudlah (yang kedua) hingga thuma'ninah dalam sujud itu. Kemudian kerjakanlah yang demikian itu dalam shalat semuanya". [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim dalam Nailul Authar juz 2, hal. 294, tetapi di dalam riwayat Muslim tidak disebutkan tentang sujud yang kedua].

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ اَبِى قَتَادَةَ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص اَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِى يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ كَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهَا وَ لاَ سُجُوْدَهَا، اَوْ قَالَ: لاَ يُقِيْمُ صُلْبَهُ فِى الرُّكُوْعِ وَ السُّجُوْدِ. احمد

Dari ‘Abdullah bin Abu Qatadah, dari bapaknya, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Sejahat-jahat manusia dalam mencuri itu ialah orang yang mencuri dari shalatnya". Lalu para shahabat bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana orang mencuri dari shalatnya itu ?". Rasulullah SAW bersabda, "Yaitu orang yang tidak menyempurnakan ruku'nya dan tidak pula sujudnya". Atau beliau bersabda, "Orang yang tidak meluruskan tulang belakangnya di dalam ruku' dan sujud". [HR. Ahmad juz 5, hal. 310]

Bangun ke raka'at kedua

Setelah kita mengerjakan sujud yang kedua, berarti kita telah mendapatkan satu raka'at. Kemudian bangun dengan bertakbir untuk mengerjakan reka'at berikutnya.

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ اَنَّ النَّبِىَّ ص لَمَّا سَجَدَ وَقَعَتْ رُكْبَتَاهُ اِلَى اْلاَرْضِ قَبْلَ اَنْ يَقَعَ كَفَّاهُ، فَلَمَّا سَجَدَ وَضَعَ جَبْهَتَهُ بَيْنَ كَفَّيْهِ وَ جَافَى عَنْ اِبْطَيْهِ، وَ اِذَا نَهَضَ نَهَضَ عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَ اعْتَمَدَ عَلَى فَخِذَيْهِ. ابو داود، فى نيل الاوطار

Dari Waail bin Hujr, ia berkata, "Sesungguhnya Nabi SAW ketika akan sujud, dua lututnya lebih dulu mengenai bumi sebelum dua tangannya. Dan ketika sujud beliau meletakkan dahinya di antara dua tapak tangannya dan menjauhkan (tangannya) dari ketiaknya. Dan apabila bangkit, beliau bangkit atas dua lututnya dan menekan pada dua pahanya". [HR. Abu Dawud, Nailul Authar juz 2, hal. 300]

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ:رَأَيْتُ النَّبِيَّ ص اِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ، وَ اِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ. ابو داود

Dari Waail bin Hujr, ia berkata, “Aku melihat Nabi SAW apabila sujud beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan apabila bangkit, beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya”. [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 222, no. 838]

عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ اَنَّهُ رَأَى النَّبِىَّ ص يُصَلّى، فَاِذَا كَانَ فِى وِتْرٍ مِنْ صَلاَتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا. الجماعة الاّ مسلما و ابن ماجه، فى نيل الاوطار

Dari Malik bin Al-Huwairits, sesungguhnya ia melihat Nabi SAW melakukan shalat. Maka apabila bangkit dari raka'at yang ganjil dari shalatnya, beliau tidak bangkit sehingga duduk dengan sempurna. [HR. Jama'ah, kecuali Muslim dan Ibnu Majah, Nailul Authar juz 2, hal. 300]

Memulai raka'at kedua dengan Al-Fatihah

Reka'at kedua dan reka'at selanjutnya, dimulai dengan membaca Al-Fatihah, tanpa membaca doa iftitah :
عَنْ اَبِى هُرَبْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا نَهَضَ فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ افْتَتَحَ اْلقِرَاءَةَ بِالْحَمْدُ للهِ رَبّ الْعلَمِيْنَ وَ لَمْ يَسْكُتْ. مسلم

Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Adalah Rasulullah SAW apabila bangkit pada raka'at kedua, beliau memulai membaca dengan Alhamdulillaahi robbil 'aalamiin, dan beliau tidak diam (untuk membaca do'a iftitah)".[HR. Muslim juz 1, hal. 419]

Duduk at-tahiyyat awwal dan dalil isyarah dengan telunjuk

عَنْ اَبِى حُمَيْدٍ اَنَّهُ قَالَ … فَاِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ اْليُسْرَى وَ نَصَبَ اْليُمْنَى، فَاِذَا جَلَسَ فِى الرَّكْعَةِ اْلأَخِيْرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَ نَصَبَ اْلاُخْرَى وَ قَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ. البخارى، فى نيل الاوطار


Dari Abu Humaid, ia berkata, "….. Maka apabila beliau SAW duduk pada dua reka’at, (at-tahiyyat awwal), beliau duduk pada kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Dan apabila duduk pada rekaat yang akhir (duduk at-tahiyyat akhir) beliau menjulurkan kakinya yang kiri dan menegakkan yang lain (kakinya yang kanan) dan beliau duduk pada tempat duduk beliau". [HR. Bukhari, Nailul Authar juz 2, hal. 306]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: ... وَ كَانَ يَقُوْلُ فِى كُلّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ. وَ كَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ اْليُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ اْليُمْنَى. مسلم

Dari 'Aisyah, ia berkata, "..... Dan adalah beliau SAW membaca at-tahiyyat pada setiap dua reka’at. Dan beliau duduk pada kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan". [HR. Muslim juz 1, hal. 357].

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا جَلَسَ فِى الصَّلاَةِ وَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَ رَفَعَ اُصْبُعَهُ الْيُمْنَى الَّتِى تَلِى اْلاِبْهَامَ فَدَعَا بِهَا، وَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ بَاسِطُهَا عَلَيْهَا، وَ فِى لَفْظٍ كَانَ اِذَا جَلَسَ فِى الصَّلاَةِ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَ قَبَضَ اَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَ اَشَارَ بِاُصْبُعِهِ الَّتِى تَلِى اْلاِبْهَامَ وَ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى. احمد و مسلم و النسائى فى نيل الاوطار

Dari Ibnu 'Umar, ia berkata, "Adalah Rasulullah SAW apabila duduk dalam shalat (duduk at-tahiyyat) beliau meletakkan dua tangannya pada dua lututnya dan mengangkat jarinya yang kanan yaitu jari yang disebelahnya ibu jari (jari telunjuk), lalu beliau berdo'a dengannya. Sedangkan tangannya yang kiri pada lututnya yang kiri dengan menghamparkan padanya". Dan dalam satu lafadh, "Adalah beliau SAW apabila duduk di dalam shalat (duduk at-tahiyyat), meletakkan tapak tangannya yang kanan pada pahanya yang kanan dan menggenggam jari-jarinya semuanya, dan beliau berisyarat dengan jarinya, yaitu jari yang sebelahnya ibu jari (jari telunjuk). Dan beliau meletakkan tapak tangannya yang kiri pada pahanya yang kiri". [HR. Ahmad, Muslim dan Nasai, Nailul Authar juz 2, hal. 316]

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ اَنَّهُ قَالَ فِى صِفَةِ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ ص: ثُمَّ قَعَدَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَ رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى، وَ جَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ اْلاَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى، ثُمَّ قَبَضَ ثِنْتَيْنِ مِنْ اَصَابِعِهِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً، ثُمَّ رَفَعَ اُصْبُعَهُ فَرَاَيْتُهُ يُحَرّكهُاَ يَدْعُوْبِهَا. احمد و النسائى و ابو داود، فى نيل الاوطار

Dari Waail bin Hujr, bahwasanya ia berkata dalam menerangkan shalatnya Rasulullah SAW, "Kemudian beliau SAW duduk dengan duduk pada kakinya yang kiri, dan meletakkan tapak tangannya yang kiri pada pahanya dan lututnya yang kiri dan menjadikan ujung sikunya yang kanan pada pahanya yang kanan. Kemudian menggenggam dua jarinya (jari manis dan jari kelingking) dan membentuk lingkaran (dengan menghubungkan jari tengah dengan ibu jari) kemudian beliau mengangkat (berisyarat) dengan jarinya (jari telunjuk), maka saya melihat beliau menggerak-gerakkannya dan berdo'a dengannya”. [HR. Ahmad, Nasai dan Abu Dawud. Nailul Authar juz 2, hal. 315]

Keterangan :
Dalam sanad hadits Waail ini ada seorang rawi yang dicela, yaitu ‘Ashim bin Kulaib, namun celanya tersebut tidak sampai menjadikan hadits tersebut dlaif.
Dengan adanya riwayat yang berbeda tersebut, yang satu menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menggerak-gerakkan jari telunjuknya ketika tasyahhud, dan yang lain tidak menyebutkan “menggerak-gerakkan telunjuknya”, di sini bisa dipahami bahwa terkadang beliau menggerak-gerakkan telunjuknya, dan kadang-kadang tidak.

Sampai jupa pada brosur selanjutnya..