Brosur MTA Tentang Shalat || Dalil-Dalil Tentang Pelaksanaan Shalat Baca Bismillah, Alfatihah, Baca Amin, Baca Surat/Ayat (Brosur 12)

Assalamualaikum saudaraku semua, dalam halaman ini dapat anda baca tata cara dan dalil-dalil tentang shalat diawali baca Basmallah, Baca Alfatihah, Baca Amin, baca Surat atau ayat quran Ahad, 20 Pebruari 2005/11 Muharram 1426  semua ada dalilnya. Silakan baca dan pelajari dengan hati hati. Karena pentingnya sholat ini, sehingga Rasulullah bersabda "Kamaroaitumunni Usholli" shalatlah kalian sebagaimana cara aku shalat. Kanapa saya berpesan ini? karena banyak saudara kita dalam beragama mengikuti buku pelajaran di sekolah, tanpa tahu dalilnya sehingga ada yang membedakan cara shalat wanita dan pria.

Dalil-Dalil Tentang Pelaksanaan Shalat Baca Bismillah, Alfatihah, Baca Surat/Ayat 

1.) Membaca Basmalah :

عَنْ اَبىِ هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يَجْهَرُ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. الدارقطنى
Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi SAW membaca Bismillaahir rohmaanir rohiim dengan jahr. [HR. Daruquthni juz 1, hal. 307]

عَنْ اَنَسٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَجْهَرُ بِاْلقِرَاءَةِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. الدارقطنى
Dari Anas, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW membaca Bismillaahir rohmaanir rohiim dengan jahr. [HR. Daruquthni juz 1, hal. 309]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا قَرَأْتُمُ اْلحَمْدُ ِللهِ فَاقْرَءُوْا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. اِنَّهَا اُمُّ اْلقُرْانِ وَ اُمُّ اْلكِتَابِ وَ السَّبْعُ اْلمَثَانِى وَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ اِحْدَاهَا. الدارقطنى
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kalian membaca Alhamdu lillaah (Al-Fatihah), maka bacalah Bismillaahir rohmaanir rohiim. Sesungguhnya Al-Fatihah itu adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab dan Tujuh (ayat) yang diulang-ulang, dan Bismillaahir rohmaanir rohiim adalah salah satu dari padanya”. [HR. Daraquthni juz 1, hal. 312]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبيَّ ص كَانَ اِذَا قَرَأَ وَ هُوَ يَؤُمُّ النَّاسَ افْتَتَحَ الصَّلاَةَ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. الدارقطنى
Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi SAW apabila menjadi imam, beliau memulai bacaan shalat dengan Bismillaahir rohmaanir rohiim". [HR. Daraquthni juz 1, hal. 306]

عَنْ اَنَسٍ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص وَ اَبِى بَكْرٍ وَ عُمَرَ وَ عُثْمَانَ فَلَمْ اَسْمَعْ اَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. مسلم
Dari Anas, ia berkata : Aku pernah shalat bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, maka aku tidak mendengar seorangpun dari mereka itu membaca Bismillaahir rohmaanir rohiim”. [HR. Muslim juz 1, hal. 299]

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبيّ ص وَ اَبِى بَكْرٍ وَ عُمَرَ وَ عُثْمَانَ فَكَانُوْا يَسْتَفْتِحُوْنَ بِاْلحَمْدُ للهِ رَبّ اْلعَالَمِيْنَ. لاَ يَذْكُرُوْنَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فِى اَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَ لاَ فِى اخِرِهَا. مسلم
Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Aku pernah shalat di belakang Nabi SAW, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, maka mereka itu memulai dengan Alhamdu lillaahi robbil 'aalamiin. Mereka tidak menyebutBismillaahir rohmaanir rohiim di permulaan bacaan dan tidak pula pada akhirnya (Basmalah untuk mulai membaca surat). [HR. Muslim juz 1, hal. 299].

Keterangan :
Pada hadits riwayat Daruquthni diatas menunjukkan bahwa kita dituntunkan untuk membaca Basmalah sebelum membaca Al-Fatihah. Adapun pada hadits riwayat Muslim tersebut menunjukkan bahwa Nabi SAW dan sebagian dari para shahabatnya memulai bacaan dengan Hamdalah.
Dari riwayat-riwayat tadi bisa kita fahami bahwa bacaan Basmalah itu kadang dibaca Jahr (nyaring) sebagaimana diriwayatkan Daruquthni tadi, dan kadang dibaca Sirr (tidak nyaring) sebagaimana diriwayatkan Muslim tersebut.

2.) Membaca Al-Fatihah

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ. البخارى
Dari ‘Ubadah bin Shaamit bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak (sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 184]

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْتَرِئْ بِاُمّ اْلقُرْانِ. مسلم
Dari ‘Ubadah bin Shaamit ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidak (sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an”. [HR. Muslim juz 1, hal. 295]

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لاَ صَلاَةَ لمِنْ لمَْ يَقْرَأْ بِاُمّ اْلقُرْانِ. مسلم
Dari ‘Ubadah bin Shaamit bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak (sah) shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah)”. [HR. Muslim juz 1, hal. 295]

Allah Menjawab Bacaan Al-Fatihah

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِأُمّ اْلقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ. ثَلاَثًا، غَيْرُ تَمَامٍ. فَقِيْلَ ِلاَبِى هُرَيْرَةَ: اِنَّا نَكُوْنُ وَرَاءَ اْلاِمَامِ. فَقَالَ: اِقْرَأْ بِهَا فِى نَفْسِكَ. فَإِنّى سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَ بَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ. وَ لِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ اْلعَبْدُ: اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبّ اْلعَالَمِيْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِى عَبْدِى. وَ إِذَا قَالَ: اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: اَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِى.وَ إِذَا قَالَ: مَالِكِ يَوْمِ الدّيْنِ، قَالَ: مَجَّدَنِى عَبْدِى (وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ اِلَيَّ عَبْدِى). فَإِذَا قَالَ: اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ، قَالَ: هذَا بَيْنِى وَ بَيْنَ عَبْدِى وَ لِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ: اِهْدِنَا الصّرَاطَ اْلمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالّيْنَ، قَالَ: هذَا لِعَبْدِى وَ لِعَبْدِى مَا سَأَلَ. مسلم
Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Barangsiapa yang shalat tidak membaca Ummul Qur'an (Al-Fatihah) padanya, maka shalatnya itu kurang". (Beliau bersabda demikian tiga kali). "Tidak sempurna". Lalu Abu Hurairah ditanya : "Sesungguhnya kami shalat di belakang imam (lalu bagaimana kami harus berbuat) ?". Abu Hurairah menjawab, "Bacalah di hatimu. Karena saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : "Allah Ta'aalaa berfirman : Aku membagi Ash-Shalah (Al-Fatihah) antara-Ku dan antara hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan untuk hamba-Ku akan mendapatkan apa-apa yang ia minta. Maka apabila hamba mengucapkan Alhamdu lillaahi rabbil 'aalamiin, Allah Ta'aalaa menjawab, "Hamba-Ku telah memuji-Ku". Apabila ia mengucap Ar-Rohmaanir Rohiim, Allah Ta'aalaa menjawab, "Hamba-Ku telah menyanjung-Ku". Apabila ia mengucap Maaliki yaumid diin, Allah menjawab, "Hamba-Ku telah mengagungkan Aku", dan juga berfirman, "Hamba-Ku berserah diri kepada-Ku". Apabila ia mengucap Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin, Allah menjawab, "Ini adalah antara-Ku dan antara hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku akan mendapatkan apa-apa yang ia minta". Dan apabila ia mengucapkan Ihdinash-shiroothol mustaqiim shirootholladziina an'amta 'alaihim ghoiril maghdluubi 'alaihim waladldloolliin, Allah menjawab, "Ini adalah untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku akan mendapatkan apa-apa yang ia minta". [HR. Muslim, Juz I hal 296].

3.) Membaca Amin.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا تَلاَ غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالّيْنَ، قَالَ: آمِيْنَ، حَتَّى يُسْمِعَ مَنْ يَلِيْهِ مِنَ الصَّفّ اْلاَوَّلِ. ابو داود، فى نيل الاوطار
Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Adalah Rasulullah SAW apabila setelah membaca ghoiril maghdluubi 'alaihim wa ladldlooliin, lalu mengucap aamiin sehingga terdengar kepada orang yang dekat dengan beliau dishaff yang pertama". [HSR. Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 250]

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ص قَرَأَ غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالّيْنَ، فَقَالَ: آمِيْنَ. يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ. احمد و ابو داود والترمذى، فى نيل الاوطار
Dari Waail bin Hujr, ia berkata, "Saya pernah mendengar Nabi SAW membaca ghoiril maghdluubi 'alaihim wa ladl-dloolliin, lalu beliau mengucap aamiin, dan beliau panjangkan suaranya". [HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 250]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اِذَا أَمَّنَ اْلاِمَامُ فَأَمّنُوْا، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِيْنُهُ تَأْمِيْنَ اْلمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: وَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَقُوْلُ آمِيْنَ. البخارى
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda “Apabila Imam membaca aamiin, maka bacalah aamiin. Karena barangsiapa yang bacaan aamiinnya itu bertepatan dengan bacaan aamiinnya para malaikat, niscaya diampuni baginya dari dosa-dosanya yang telah lalu”. Ibnu Syihab (perawi hadits tersebut) berkata, “Dan Rasulullah SAW membaca aamiin”. [HR. Bukhari, juz 1, hal. 190].

عَنْ ابِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِذَا قَالَ اْلاِمَامُ غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّالّيْنَ، فَقُوْلُوْا امِيْنَ. فَاِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ اْلمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. البخارى
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Apabila imam telah membaca ghoiril maghdluubi ‘alaihim waladldloolliin, maka ucapkanlah aamiin, karena barangsiapa yang ucapannya itu bersamaan dengan ucapan malaikat, niscaya diampuni baginya dosanya yang telah lalu”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 190]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا قَالَ اْلاِمَامُ: غَيْرِ اْلمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالّيْنَ، فَقُوْلُوْا: آمِيْنَ. فَإِنَّ اْلمَلاَئِكَةَ تَقُوْلُ آمِيْنَ. وَ إِنَّ اْلاِمَامَ يَقُوْلُ آمِيْنَ. فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِيْنُهُ تَأْمِيْنَ اْلمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. النسائى
Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Apabila Imam telah membaca ghoiril maghdluubi'alaihim wa ladldloolliin, maka ucapkanlah aamin, karena sesungguhnya para malaikat mengucapkan aamiin. Dan sesungguhnya imam juga membaca aamiin, maka barang siapa yang bacaan aamiin nya itu bertepatan dengan bacaan aamiin nya para malaikat, niscaya diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu". [HR. Nasai juz 2, hal 144]

4.) Membaca Surat atau Ayat-ayat Al-Qur'an

عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ قَالَ: أُمِرْنَا اَنْ نَقْرَأَ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ وَ مَا تَيَسَّرَ. ابو داود
Dari Abu Sa'id, ia berkata, "Kami diperintah (oleh Rasulullah SAW) supaya membaca Al-Fatihah dan apa-apa (ayat atau surat) yang mudah". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 216]

عَنْ اَبِى قَتَادَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يَقْرَأُ فِى الظُّهْرِ فِى اْلاُولَيَيْنِ بِأُمّ اْلكِتَابِ وَ سُوْرَتَيْنِ، وَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ اْلاُخْرَيـَيْنِ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ. وَ يُسْمِعُنَا اْلآيَةَ أَحْيَانًا، وَ يُطَوّلُ فِى الرَّكْعَةِ اْلاُوْلَى مَا لاَ يُطِيْلُ فِى الثَّانِيَةِ، هكَذَا فِى اْلعَصْرِ، وَ هكَذَا فِى الصُّبْحِ. احمد والبخارى و مسلم، فى نيل الاوطار
Dari Abu Qatadah, bahwasanya Nabi SAW biasa membaca di dalam shalat Dhuhur, pada dua rekaat yang pertama Al-Fatihah dan dua surat, dan pada dua rekaat yang lain beliau membaca Al-Fatihah, dan kadang-kadang beliau memperdengarkan ayat (yang beliau baca) kepada kami. Dan beliau memanjangkan pada rekaat yang pertama dan tidak memanjangkan pada rekaat yang kedua. Demikian itu pula beliau berbuat dalam shalat 'Ashar dan demikian juga dalam shalat Shubuh" [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim, dalam Nailul Authar juz 2, hal 252]

عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيّ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يَقْرَأُ فِى صَلاَةِ الظُّهْرِ فِى الرَّكْعَتَيْنِ اْلاُوْلَيَيْنِ فِى كُلّ رَكْعَةٍ قَدْرَ ثَلاَثِيْنَ آيَةً، وَ فِى اْلاُخْرَيَيْنِ قَدْرَ قِرَاءَةِ خَمْسَ عَشَرَةَ آيَةً. اَوْ قَالَ نِصْفَ ذلِكَ. وَ فِى اْلعَصْرِ فِى الرَّكْعَتَيْنِ اْلاُوْلَيَيْنِ فِى كُلّ رَكْعَةٍ قَدْرَ قِرَاءَةِ خَمْسَ عَشَرَةَ آيَةً، وَ فِى اْلاُخْرَيَيْنِ قَدْرَ نِصْفِ ذلِكَ. احمد و مسلم، فى نيل الاوطار
Dari Abu Sa'id Al-Khudri, bahwasanya Nabi SAW biasa membaca di dalam shalat Dhuhur, pada dua rekaat yang pertama pada masing-masing rekaat seukur tiga puluh ayat, dan pada dua rekaat yang lain seukur bacaan lima belas ayat, atau ia berkata "separo dari itu". Dan dalam shalat 'Ashar, pada dua rekaat yang pertama, masing-masing rekaat seukur bacaan lima belas ayat, dan pada dua rekaat yang lain seukur separo dari itu" [HR. Ahmad dan Muslim, dalam Nailul Authar juz 2, hal 254]

Keterangan :
Dari Hadits tersebut ada ulama yang memahami boleh membaca surat pada tiap-tiap rekaat.

Brosur MTA Tentang Shalat || Dalil-Dalil Tentang Pelaksanaan Shalat Cara Bersedekap, Lafaz Iftitah, Awali Ta'awwuz (Brosur 11)

Assalamualaikum saudaraku semua, dalam halaman ini dapat anda baca tata cara bersedekap, jenis lafaz iftitah dan anjuran membaca Ta'awwus (A'udzubillahi minasyatonirrojim) semua ada dalilnya. Silakan baca dan pelajari dengan hati hati. Karena pentingnya sholat ini, sehingga Rasulullah bersabda "Kamaroaitumunni Usholli" shalatlah kalian sebagamana cara aku shalat. Kanapa saya berpesan ini? karena banyak saudara kita dalam beragama mengikuti buku pelajaran di sekolah, tapa tahu dalilnya sehingga ada yang membedakan cara shalat wanita dan pria.


Dalil-Dalil Tentang Pelaksanaan Shalat Cara Bersedekap, Lafaz Iftitah, Awali Ta'awwuz

1.) Bersedekap.

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ اَنَّهُ رَاَى النَّبِيَّ ص رَفَعَ يَدَيْهِ حِيْنَ دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ كَبَّرَ (وَصَفَ هَمَّامٌ حِيَالَ اُذُنَيْهِ) ثُمَّ اِلْتَحَفَ بِثَوْبِهِ. ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنىَ عَلَى الْيُسْرَى. فَلَمَّا اَرَادَ اَنْ يَرْكَعَ اَخْرَجَ يَدَيْهِ مِنَ الثَّوْبِ ثُمَّ رَفَعَهُمَا. ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ. فَلَمَّا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ. فَلَمَّا سَجَدَ سَجَدَ بَيْنَ كَفَّيْهِ. مسلم 1: 301

Dari Wail bin Hujr, sesungguhnya ia pernah melihat Nabi SAW mengangkat kedua tangannya waktu memulai shalat, beliau bertakbir (Hammam, perawi hadits menerangkan : beliau mengangkat tangannya hingga sejajar kedua telinganya) Kemudian beliau berselimut dengan pakaiannya, kemudian beliau meletakkan tangan kanannya pada tangan kirinya. Ketika beliau akan ruku’, beliau mengeluarkan kedua tangannya dari pakaiannya, kemudian mengangkat keduanya, kemudian bertakbir dan ruku’. Ketika beliau membaca Sami’alloohu liman hamidah, beliau mengangkat kedua tangannya, dan ketika sujud beliau sujud diantara dua tapak tangannya” [HR. Muslim juz I, hal. 301]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: مَرَّ بِى النَّبِيُّ ص وَ اَنَا وَاضِعٌ يَدِى اليُسْرَى عَلَى اْليُمْنَى. فَاَخَذَ بِيَدِى اْليُمْنَى فَوَضَعَهَا عَلَى اْليُسْرَى. ابن ماجه 1: 266

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, “Nabi SAW melewati aku ketika aku (sedang shalat dengan) meletakkan tangan kiri pada tangan kanan. Maka beliau memegang tanganku yang kanan, lalu meletakkannya pada tanganku yang kiri”. [HR. Ibnu Majah juz I, hal. 266]

عَنْ قَبِيْصَةَ بْنِ هُلَبٍ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ ص يَنْصَرِفُ عَنْ يَمِيْنِهِ وَ عَنْ يَسَارِهِ وَ رَأَيْتُهُ قَالَ يَضَعُ هذِهِ عَلَى صَدْرِهِ، وَصَفَ يَحْيَى اْليُمْنَى عَلَى اْليُسْرَى فَوْقَ الْمِفْصَلِ. احمد 8: 225 رقم 22026

Dari Qabishah bin Hulab dari bapaknya, ia berkata, “Saya pernah melihat Nabi SAW berpaling (selesai shalat) dari sebelah kanan dan dari sebelah kirinya. Dan aku melihatnya beliau meletakkan ini pada dadanya”. Yahya (perawi hadits) menerangkan yaitu beliau meletakkan tangan kanan pada tangan kirinya di pergelangan”. [HR. Ahmad juz 8, hal. 225 hadits no. 22026].

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص وَ وَضَعَ يَدَهُ اْليُمْنَى عَلَى يَدِهِ اْليُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ. ابن حزيمة 1: 243

Dari Wail bin Hujr, ia berkata : Saya pernah shalat bersama Rasulullah SAW, dan beliau meletakkan tangan kanannya pada tangan kirinya di dada beliau. [HR. Ibnu Khuzaimah juz 1, hal. 243]

عَنْ طَاوُسٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَضَعُ يَدَهُ اْليُمْنَى عَلَى يَدِهِ اْليُسْرَى ثُمَّ يَشُدُّ بَيْنَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ وَ هُوَ فِى الصَّلاَةِ. ابو داود 1: 201
Dari Thawus, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW meletakkan tangannya yang kanan pada tangannya yang kiri, kemudian beliau memegangnya erat-erat di dadanya ketika shalat. [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 201]

2.) Doa Iftitah.

Doa Iftitah ini yang dicontohkan oleh Nabi SAW adalah banyak macamnya. Diantaranya :

اَللّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَ بَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ اْلمَشْرِقِ وَاْلمَغْرِبِ. اَللّهُمَّ نَقّنِى مِنَ اْلخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ. اَللّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِاْلمَاءِ وَالثَّلْجِ وَاْلبَرَدِ. البخارى عن ابى هريرة. ج 1،ص:181

1. Ya Allah, jauhkanlah antaraku dan antara kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah diriku dari kesalahan-kesalahan sebagaimana kain yang putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun. [HR. Bukhari dari Abu Hurairah, Juz I : 181].

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا كَبَّرَ فِى الصَّلاَةِ سَكَتَ هُنَيَّةً قَبْلَ اَنْ يَقْرَأَ. فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، بِاَبِى اَنْتَ وَ اُمّى، اَرَأَيْتَ سُكُوْتَكَ بَيْنَ التَّكْبِيْرِ وَ اْلقِرَاءَةِ مَا تَقُوْلُ؟ قَالَ: اَقُوْلُ: اَللّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَ بَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ. اَللّهُمَّ نَقّنِى مِن خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ. اَللّهُمَّ اغْسِلْنِى مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَ اْلمَاءِ وَ الْبَرَدِ. مسلم 1: 419

2. Dari Abu Hurairah ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila setelah takbir memulai shalat beliau diam sejenak sebelum membaca Al-Fatihah. Lalu aku bertanya, “Ya Rasulullah, ku tebusi engkau dengan ayah dan ibuku. Beritahukanlah kepadaku apa yang engkau baca ketika diam antara takbir dan membaca Al-Fatihah ?”. Beliau menjawab, “Aku membaca (yang artinya) (Ya Allah, jauhkanlah antaraku dan antara kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain yang putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah diriku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air dan embun)”. [HR. Muslim juz I, hal. 419]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا اسْتَفْتَحَ الصَّلاَةَ قَالَ: سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ وَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَ تَعَالىَ جَدُّكَ وَلاَ اِلهَ غَيْرُكَ. ابو داود 1: 206

3. Dari 'Aisyah, ia berkata : "Adalah Nabi SAW apabila memulai shalat, beliau membaca : Subhaanakalloohumma wa bihamdika wa tabaarokas-muka wa ta'aalaa jadduka walaa ilaaha ghoiruka. (Maha suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mulah (aku memulai ibadat ini) dan Maha Berkah nama-Mu, Maha tinggi kemulyaan-Mu, dan tiada Tuhan selain Engkau)". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 206]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص اِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلقَوْمِ : اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَاْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص : مَنِ اْلقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَ كَذَا ؟ قَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلقَوْمِ: اَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا اَبْوَابُ السَّمَاءِ. قَالَ ابْنُ عُمَرَ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُولُ ذلِكَ. مسلم1 :420

4. Dari Ibnu 'Umar, ia berkata : Pada suatu ketika kami shalat bersama Rasulullah SAW. Tiba-tiba ada seorang lelaki dari suatu kaum membaca Alloohu Akbar kabiiroo, walhamdu lillaahi katsiiroo, wa subhaanalloohi bukrotaw wa ashiilaa. (Allah Maha Besar dari segala yang besar, segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya, dan Maha suci Allah diwaktu pagi dan petang). Maka Rasulullah SAW bersabda : "Siapakah orang yang membaca kalimat begitu tadi ?". Lalu seorang laki-laki dari suatu kaum tadi menjawab : "Saya, ya Rasulullah. Beliau bersabda : "Saya kagum akan bacaan itu. Telah dibuka karenanya pintu-pintu langit". Ibnu 'Umar berkata : "Maka saya tidak pernah meninggalkan bacaan itu sejak mendengar Rasulullah SAW bersabda yang demikian itu". [HR. Muslim juz 1, hal. 420]

عَنْ عَلِيّ بْنِ اَبِى طَالِبٍ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص اَنَّهُ كَانَ اِذَا قَامَ اِلىَ الصَّلاَةِ قَالَ: وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَ اْلاَرْضَ حَنِيْفًا وَمَا اَنَا مِنَ اْلمُشْرِكِيْنَ. اِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَ مَحْيَايَ وَ مَمَاتِى ِللهِ رَبّ اْلعَالَمِيْنَ.لاَشَرِيْكَ لَهُ وَ بِذلِكَ اُمِرْتُ وَ اَنَا مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ. اَللّهُمَّ اَنْتَ اْلمَلِكُ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ. اَنْتَ رَبّى وَ اَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِى، وَ اعْتَرَفْتُ بِذَنْبِى فَاغْفِرْلىِ ذُنُوْبِى جَمِيْعًا، اِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ ، وَ اهْدِنِى ِلاَحْسَنِ اْلاَخْلاَقِ، لاَ يَهْدِى ِلاَحْسَنِهَا اِلاَّ اَنْتَ، وَ اصْرِفْ عَنّى سَيّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنّى سَيّئَهَا اِلاَّ اَنْتَ. لَبَّيْكَ وَ سَعْدَيْكَ. وَ اْلخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ. وَ الشَّرُّ لَيْسَ اِلَيْكَ. اَنَا بِكَ وَ اِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَ تَعَالَيْتَ. اَسْتَغْفِرُكَ وَ اتُوْبُ اِلَيْكَ. مسلم 1 :534

5. Dari Ali bin Abu Thalib, dari Rasulullah SAW, sesungguhnya beliau apabila berdiri shalat, beliau membaca (yang artinya) : "Aku hadapkan wajahku dengan lurus kepada (Allah) yang telah menjadikan langit dan bumi, dan aku bukanlah dari golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya. Dan dengan demikian itulah aku diperintahkan, dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Raja, tiada Tuhan selain Engkau, Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menganiaya diriku dan aku mengakui dosa-dosaku, karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau, dan tunjukilah aku kepada sebaik-baik akhlaq, dan tidak ada yang bisa menunjuki kepada sebaik-baik akhlaq kecuali Engkau. Dan palingkanlah dariku akhlaq yang buruk, dan tidak ada yang bisa memalingkan akhlaq yang buruk dariku selain Engkau. Aku sambut panggilan-Mu dan aku tetap thaat kepada-Mu dan menolong agama-Mu. Dan kebaikan semuanya ada ditangan-Mu. Dan kejahatan tidaklah menuju kepada-Mu. Aku memohon kebaikan kepada-Mu dan berlindung kepada-Mu. Maha suci Engkau dan Maha Tinggi. Aku mohon ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu". [HR. Muslim juz 1, hal. 534].

Keterangan : Dan dalam riwayat lain disebutkan seperti diatas, namun bukan dengan lafadz "wa ana minal muslimin", tetapi dengan lafadz "wa ana awwalul muslimin". [Muslim, Juz I : 536]

3.) Membaca Ta'awwudz.

فَاِذَا قَرَأْتَ اْلقُرْانَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ.النحل:98
Apabila kamu membaca Al-Qur'an hendaklah kamu meminta perlindu-ngan kepada Allah dari syetan yang terkutuk. [QS. An-Nahl : 98].

عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيّ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ كَانَ اِذَا قَامَ اِلىَ الصَّلاَةِ اسْتَفْتَحَ ثُمَّ يَقُوْلُ: اَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ اْلعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَ نَفْخِهِ وَ نَفْثِهِ. احمد و الترمذى، فى نيل الاوطار 2: 219

Dari Abu Sa'id Al-Khudriy dari Nabi SAW bahwasanya apabila beliau berdiri shalat membaca doa iftitah, kemudian beliau membaca : A'uudzu billaahis-samii'il 'aliimi minasy-syaithoonir rojiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi (Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari syaithan yang terkutuk, dari gangguannya, tiupannya dan hembusannya)". [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 219].

قَالَ ابْنُ اْلمُنْذِرِ جَاءَ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ قَبْلَ الْقِرَاءَةِ: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. نيل الاوطار 2: 220

Ibnu Mundzir berkata : Datang riwayat dari Nabi SAW bahwasanya sebelum membaca Al-Fatihah beliau membaca : A'uudzu billaahi minasy-syaithoonir rojiim. (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk). [Nailul Authar juz 2, hal. 220].

قَالَ اْلاَسْوَدُ: رَأَيْتُ عُمَرَ حِيْنَ يَفْتَتِحُ الصَّلاَةَ يَقُوْلُ: سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ وَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَ تَعَالىَ جَدُّكَ وَ لاَ اِلهَ غَيْرُكَ، ثُمَّ يَتَعَوَّذُ. الدارقطنى، فى نيل الاوطار 2: 220

Telah berkata Al-Aswad : "Saya pernah melihat 'Umar waktu memulai shalat, ia membaca Subhaanakalloohumma wa bihamdika wa tabaarokas-muka wa ta'aalaa jadduka walaa ilaaha ghoiruka. (Maha suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mulah (aku memulai ibadat ini) dan Maha Berkah nama-Mu, Maha tinggi kemulyaan-Mu, dan tiada Tuhan selain Engkau)". kemudian ia membaca ta'awudz". [HR. Daruquthni, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 220].

Keterangan :
Dari ayat 98 surat An-Nahl di atas, ada ulama yang memahami bahwa membaca ta'awwudz itu perlu pada tiap-tiap rekaat.
Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ta'awwudz itu cukup pada reka'at yang pertama saja, karena dalam satu shalat walaupun ada beberapa kali bacaan Al-Qur'an, tetapi semuanya itu dalam satu ibadat saja, lagi pula hadits-hadits tentang ta'awwudz itu semuanya menunjuk-kan untuk reka'at yang pertama saja.